![]() |
AGAM — Sudah sepuluh hari relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menembus jalur ekstrem sepanjang hampir 15 kilometer pulang pergi untuk mengantarkan nasi bungkus kepada ratusan korban bencana galodo di Salareh Aia, Kabupaten Agam.
Setiap hari mereka berjalan kaki lebih dari lima jam sekali jalan, memikul 200 bungkus makanan dalam satu perjalanan, melewati tanjakan curam dan turunan licin dan sampai saat ini sudah 2800 lebih nasi bungkus yang disalurkan untuk warga Seberang Air
Posko Muhammadiyah yang dikelola MDMC berdiri sejak 30 November 2025, hanya satu hari setelah banjir bandang menghantam wilayah tersebut. Saat awal berdiri, posko berada dalam keadaan sangat terbatas: tanpa listrik, hanya menggunakan tenda darurat dan peralatan masak seadanya.
Penanggung Jawab Pos layanan Muhammadiyah Salareh Aia, Portito, menjelaskan bahwa dapur umum MDMC akan terus menyalurkan bantuan ke warga Seberang Air baik berupa Nasi bungkus atau bantuan lainnya yang terjebak di seberang sungai dan terisolasi total akibat jembatan yang hanyut terbawa arus.
“Untuk menyalurkan makanan setiap hari, relawan membangun jembatan darurat agar bisa membawa 400 nasi bungkus per hari. Kami berangkat dari jam 10.30 sampai jam 14.00, kemudian lanjut lagi dari jam 16.00 sampai jam 20.00,” ujarnya.
Menurutnya, logistik sebenarnya sudah sempat distok di lokasi, namun warga tidak memiliki kompor atau peralatan memasak karena semua rusak terseret banjir.
“Selain nasi, logistik bahan makanan juga ada di sana, tetapi mereka tidak punya alat masak untuk mengolahnya,” terang Portito.
Ia menegaskan bahwa saat ini kebutuhan paling mendesak adalah akses alternatif berupa tali panjang yang dapat menghubungkan dua sisi sungai, sehingga bantuan makanan bisa dikirim tanpa perlu berjalan jauh menembus jalur ekstrem setiap hari.
Beberapa hari yang lalu MDMC sudah meminta bantuan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia Nusron Wahid yang berkunjung ke pos MDMC salareh Air cuma sampai saat ini masih menunggu tindak lanjut. Selain itu MDMC Juga berkolaborasi dengan majlis ulama Indonesia untuk membantu warga Salareh Air
“Kami sudah meminta bantuan pak Nusron Wahid saat beliau berkunjung ke sini untuk membuat akses alternatif dengan tali penghubung, agar bantuan bisa dikirim lebih cepat cuma kami masih menunggu tindak lanjut belia,” ungkapnya.
Portito menambahkan, sudah tiga hari terakhir bantuan nasi tidak bisa disalurkan karena air sungai kembali membesar dan jembatan darurat hanyut terbawa arus. Kondisi ini membuat warga semakin terancam.
“Kami sangat berharap bantuan untuk dapur umum dan akses tali penghubung segera direalisasikan. Ini kebutuhan mendesak,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu relawan MDMC, Ipal, menuturkan beratnya perjuangan relawan menuju lokasi terdampak.
“Setiap hari kami berjalan kaki sejauh 15 kilometer selama lebih dari lima jam untuk mengantar makanan ke Sebarang Air yang terisolasi,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan pada hari kedua ada salah satu relawan yang tenggelam kedalam lumpur sampai setinggi leher kerena sulitnya akses ke lokasi Seberang Air.
Menurutnya, kondisi di lokasi sangat memprihatinkan: banyak rumah rusak parah, listrik padam, persediaan makanan menipis, dan mulai muncul warga yang sakit akibat cuaca ekstrem.
“Hari ini jembatan darurat hanyut lagi karena debit air naik. Sudah dua hari warga belum mendapatkan kiriman makanan minuman dari dapur umum MDMC, dan suasana di sana gelap total,” ujar Ipal, Minggu (7/12/2025).
Saat ini posko MDMC juga kekurangan relawan untuk memperbaiki akses dan mengantar bantuan. Sejak posko berdiri, sekitar 90 orang pernah datang membantu, namun sebagian besar hanya satu atau dua hari. Relawan aktif yang tersisa hanya sekitar 18–23 orang.
“Kami kekurangan tenaga. Kalau kami keluar mengantar makanan, posko jadi kosong dan pekerjaan lain tertinggal. Bahkan bantuan yang masuk sering tidak sempat kami data,” jelasnya.
Ipal berharap lebih banyak relawan, donatur, serta dukungan pemerintah hadir membantu Posko MDMC Salareh Aia, karena ratusan warga di daerah terisolasi masih sangat membutuhkan uluran tangan.
