Menjadikan Pesantren Sebagai Pelopor Kebangkitan Islam

Nahmawati, S.IP


Di tengah derasnya arus globalisasi dan krisis moral yang melanda generasi muda, pesantren kembali menjadi sorotan sebagai benteng terakhir pendidikan akhlak dan keislaman. Namun lebih dari itu, pesantren sejatinya memiliki potensi besar untuk tampil sebagai pelopor kebangkitan Islam bukan sekadar lembaga pendidikan tradisional, melainkan pusat lahirnya generasi pemimpin umat yang berilmu, berkarakter, dan berkomitmen menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa ajang Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Nasional dan Internasional tidak sekadar menjadi perlombaan membaca kitab kuning, melainkan memiliki makna yang jauh lebih mendalam. Menurutnya, kegiatan ini dapat menjadi anak tangga pertama menuju kebangkitan kembali The Golden Age of Islamic Civilization atau Zaman Keemasan Peradaban Islam. Melalui MQK, potensi keilmuan pesantren dapat terus dikembangkan untuk melahirkan generasi ulama yang berwawasan luas dan berakhlak mulia. Ia menilai, pesantren merupakan benteng paling kuat bangsa Indonesia, tempat tumbuhnya nilai-nilai moral, spiritual, dan intelektual yang mampu menjadi fondasi kebangkitan peradaban Islam di masa depan. (Kementerian Agama Republi Indonesia, 2/10/2025) 


Nasaruddin Umar juga menekankan pentingnya adanya integrasi dan “perkawinan” antara dua sumber ilmu, yakni Iqra’ yang melambangkan kitab putih atau ilmu umum, dan Bismirabbik yang merepresentasikan kitab kuning atau ilmu turats. Menurutnya, keseimbangan antara keduanya menjadi kunci lahirnya insan kamil, yaitu manusia paripurna yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan moral. Ia menilai, selama ini dunia pendidikan sering terjebak pada dikotomi ilmu, memisahkan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Padahal, pesantren memiliki posisi strategis untuk menyatukan keduanya dalam satu bingkai pendidikan Islam yang utuh, sehingga mampu melahirkan generasi yang siap memimpin kebangkitan peradaban Islam dengan ilmu dan iman sekaligus.

Untuk mewujudkan kembali The Golden Age of Islamic Civilization, Indonesia sejatinya memiliki potensi besar melalui eksistensi pesantren. Negeri ini dianugerahi ribuan pesantren yang tersebar di seluruh penjuru nusantara, dengan karakter khas yang menekankan keseimbangan antara ilmu, amal, dan akhlak. Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan jika pesantren tetap menjaga lima unsur sejatinya, yaitu masjid, kiai, santri, kemampuan membaca kitab turats, dan pelestarian habit pesantren. Masjid menjadi pusat spiritual yang mengokohkan hubungan hamba dengan Allah, kiai sebagai penjaga tradisi keilmuan dan keteladanan, santri sebagai pewaris perjuangan dakwah, penguasaan kitab turats sebagai sumber ilmu dan kebijaksanaan Islam klasik, serta habit pesantren sebagai pola hidup yang menanamkan disiplin, kesederhanaan, dan keikhlasan.

Sepintas, penetapan tema besar Hari Santri 2025: “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” memang memberi harapan besar terhadap peran santri dan pesantren dalam membangun masa depan bangsa. Tema ini seolah menegaskan bahwa santri memiliki misi penting dalam mewarnai peradaban global. Namun, dalam konteks kehidupan sekuler-liberal seperti saat ini, arah dan makna dari tema tersebut perlu dicermati dengan kacamata syariat Islam. Sebab, tanpa fondasi nilai-nilai Islam yang kokoh, cita-cita membangun peradaban dunia justru berpotensi kehilangan arah, terjebak dalam paradigma materialistik dan nasionalistik semata.

Sayangnya, di tengah semangat kebangkitan yang digaungkan, terdapat upaya pengokohan sekulerisme di lingkungan pesantren yang patut diwaspadai. Pesantren yang sejatinya berperan sebagai pusat pencetak ulama dan pemimpin peradaban Islam, perlahan mengalami pergeseran orientasi. Melalui berbagai program modernisasi dan narasi kemandirian ekonomi, fokus santri mulai didistraksi dari misi utamanya sebagai warosatul anbiya, pewaris perjuangan para nabi dalam menegakkan Islam secara Kaffah.

Lebih jauh lagi, ada upaya membelokkan arah perjuangan santri dari misi dakwah dan penegakan Islam menjadi sekadar agen perdamaian dan perubahan sosial versi sekulerisme, bahkan diarahkan menjadi duta Islam moderat (wasathiyah) yang dimaknai secara keliru. Padahal, konsep ini justru mengebiri semangat dakwah dan jihad intelektual yang menjadi ruh pesantren sejak masa ulama salaf.

Mewujudkan kembali peradaban Islam bukanlah sekadar cita-cita ideal atau narasi romantik masa lalu, melainkan kewajiban setiap mukmin. Kebangkitan Islam bukan hanya perkara sejarah, tetapi perintah syar’i yang menuntut keterlibatan nyata seluruh umat, terutama kalangan pesantren sebagai penjaga warisan intelektual Islam. Santri dan kiai memiliki tanggung jawab besar untuk mengembalikan arah perjuangan Islam agar berpijak pada misi luhur risalah Rasulullah SAW membangun peradaban yang tunduk kepada hukum Allah di segala aspek kehidupan.

Untuk itu, penting bagi umat, khususnya pesantren, untuk memahami secara detail bagaimana Islam membangun peradaban: mulai dari asasnya, miqyas amalnya, makna kebahagiaannya, hingga gambarannya yang khas. Asas peradaban Islam adalah akidah Islam, miqyas amalnya adalah syariat Allah, dan makna kebahagiaannya terletak pada ridha Nya, bukan pada capaian duniawi semata. Maka peradaban Islam adalah peradaban yang menyatukan iman, ilmu, dan amal dalam satu arah menuju ketaatan kepada Allah Swt.
Meski demikian, pesantren hanyalah salah satu komponen dalam perjuangan besar mewujudkan kembali peradaban Islam.

Dibutuhkan dakwah politik Islam yang terarah pada penerapan syariat secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan perjuangan ideologis yang berlandaskan Islam, pesantren dapat berperan sebagai pusat penyadaran umat sekaligus pencetak pemimpin peradaban.

Pada akhirnya, peradaban Islam sejati hanya akan terwujud dalam naungan sistem Khilafah, sebagaimana yang pernah mencapai puncak keemasannya di masa lalu. Melalui sistem inilah, seluruh potensi pesantren, ulama, dan santri akan bersatu dalam satu visi peradaban yang berlandaskan akidah Islam. Di bawah kepemimpinan Islam yang menyeluruh, pesantren akan kembali pada jati dirinya, ilmu akan terarah pada ridha Allah, dan umat Islam akan kembali menjadi rahmat bagi seluruh alam sebuah langkah nyata menuju The Golden Age of Islamic Civilization yang hakiki.
Wallahu alam bisshawab.

Oleh Nahmawati, S.IP
(Pegiat Literasi) 

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,84,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,2,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,10,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,9,Jakarta Selatan,1,KAI,173,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,198,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,185,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,578,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,102,Polresta Padang,1,Polri,80,Pontianak,1,Puisi,19,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,2,Solok,2,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,606,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,11,
ltr
item
Media Sumbar: Menjadikan Pesantren Sebagai Pelopor Kebangkitan Islam
Menjadikan Pesantren Sebagai Pelopor Kebangkitan Islam
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZbXOmQhj6ls00rGsaJbRzF3h2ZuyerKgs9rxTrkR0im0ehNpOU6nV5IrnaybUDhbNDpXV-gPygy7AZOWVvz7kHbp1Iupo-hzLw7CDer149qLvVsJrDc2O9bTjI3XrFKkrwTy-SH-FvpAnYwF1IWxhlDG7VS-MKpRj9q7QQwDKlCr_vaaj6Tfg6bmt6pMu/w640-h640/1000385738.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZbXOmQhj6ls00rGsaJbRzF3h2ZuyerKgs9rxTrkR0im0ehNpOU6nV5IrnaybUDhbNDpXV-gPygy7AZOWVvz7kHbp1Iupo-hzLw7CDer149qLvVsJrDc2O9bTjI3XrFKkrwTy-SH-FvpAnYwF1IWxhlDG7VS-MKpRj9q7QQwDKlCr_vaaj6Tfg6bmt6pMu/s72-w640-c-h640/1000385738.jpg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2025/10/menjadikan-pesantren-sebagai-pelopor.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2025/10/menjadikan-pesantren-sebagai-pelopor.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content