Oleh Risye Kristina Dewi
Komunitas Rindu Surga
Masih di bulan Rabiulawal, umat Muslim juga masih memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Maulid atau kelahiran Nabi Muhammad saw. ini ternyata tidak cukup hanya disambut dengan penuh shalawat dan doa saja, tapi kita sebagai umatnya harus dapat mengambil hikmah dari kelahiran Rasulullah saw. tersebut. Kelahiran beliau adalah awal perubahan besar bagi peradaban manusia yaitu dari masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islam yang mulia.
Namun, apakah kita sudah siap dengan meneladani metode beliau dalam melakukan perubahan, ataukah kita masih yakin dengan metode sekuler seperti demokrasi yang sampai saat ini hanya memberikan janji-janji kemakmuran yang belum terbukti? Atau masih yakinkah dengan gerakan massa yang seringkali menimbulkan kekerasan dan berujung memakan korban? Tentu harus kita lihat lagi.
Kelahiran Rasulullah saw. yang memancarkan cahaya bukan sekadar kejadian kosmik belaka, akan tetapi merupakan isyarat politik sekaligus bisa dikatakan sebagai bentuk ancaman langsung untuk bangsa imperium Persia dan Romawi pada saat itu. Beliau lahir sebagai pemimpin perubahan politik global yang akan menghancurkan tatanan kufur dunia dan akan membangun peradaban Islam yang mulia. Rasulullah saw. pernah berseru:
"Hai manusia, ucapkanlah 'La ilaaha ilallah', niscaya kalian beruntung!" (HR. Ahmad)
Seruan tersebut bukan sekedar dakwah tauhid, akan tetapi merupakan sebuah deklarasi bahwa perubahan yang hakiki harus diawali dengan pengakuan bahwa kedaulatan ada ditangan Allah Swt..
Pada saat ini banyak orang berharap adanya perubahan politik dengan cara gerakan massa, padahal perubahan politik seperti ini tidak memberikan solusi yang terbaik. Kita lihat pada era Reformasi 1998 setelah orde baru runtuh apakah kondisi negeri ini membaik? Tentu jawabannya, adalah tidak. Faktanya pajak makin tinggi, sumberdaya alam milik rakyat tetap berada dalam kendali swasta dan asing sehingga rakyat tetap miskin. Mengapa demikian? Karena yang runtuh itu hanyalah rezimnya bukan sistem atau aturannya. Padahal akar dari permasalahannya adalah dengan tetap memakai aturan sekuler demokrasi, di mana aturan ini, kedaulatan ada di tangan manusia artinya pembuat hukum diserahkan kepada hawa nafsu manusia. Allah Swt. dalam firman-Nya:
"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang orang yang meyakini (agamanya)?" (TQS Al-Maidah {5}:50)
Tentu sudah sangat jelas, bahwa demokrasi dengan menempatkan kedaulatan di tangan manusia adalah bentuk kesalahan. Oleh karena itu dengan mengganti penguasa tanpa mengganti aturan politik ke arah aturan politik Islam, maka tidak akan pernah menghasilkan perubahan yang hakiki.
Untuk itu, perlu adanya metode menuju perubahan hakiki, yakni metode yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. di antaranya: pertama, tasqif (pembinaan). Kedua, tafa'ul ma'al-ummah (interaksi dengan masyarakat. Ketiga, thalab an-nushrah (menggalang dukungan). Metode inilah yang mampu mengubah tatanan kehidupan dari jahiliyah menuju Islam hingga tercipta peradaban yang mulia.
Alhasil jika saat ini umat menginginkan adanya perubahan yang hakiki dan lepas dari aturan yang menyebabkan ketidakadilan untuk rakyat maka harus kembali pada aturan Allah Swt.. Sehingga dapat menjadikan negeri ini negeri yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik dan subur. Yakni dengan meneladani metode dakwah ala Rasulullah saw. yaitu dengan menempuh thariqah Nabawiyah, menerapkan kembali Islam kaffah yaitu dengan membangun kembali sistem pemerintahan Islam, itulah sistem Khilafah 'ala minhaj an-Nubuwwah.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.
