Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S.T
Aktivis Muslimah
Kasus bunuh diri akibat himpitan ekonomi, warga Kampung Cae, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung digegerkan dengan tewasnya seorang ibu muda bersama dua anaknya berusia 6 tahun dan 11 bulan dirumah kontrakan pada Jum'at, 5 September 2025. Polisi tidak menemukan tanda kekerasan dari luar, sementara pintu dan jendela terkunci rapat hingga didobrak warga. Dugaan kuat sang ibu lebih dulu menghabisi nyawa kedua anaknya sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Di lokasi, ditemukan surat yang berisi curahan hati korban. Ia menulis tak sanggup menanggung hutang, tekanan ekonomi, dan masalah rumah tangga, serta gagal menjadi istri atau ibu (www.detik.com).
Fenomena bunuh diri yang marak terjadi tidak bisa dilihat hanya sebagai kelemahan individu. Tekanan hidup yang begitu berat membuat sebagian orang merasa menemui jalan buntu. Padahal akar masalahnya justru terletak pada sistem Kapitalisme yang diterapkan saat ini. Sistem ini meniscayakan kesenjangan yakni distribusi kekayaan tidak pernah adil. Kekayaan hanya berputar di kalangan orang kaya. Sementara rakyat kecil dipaksa bertahan hidup yang kian terhimpit. Inilah yang melahirkan depresi, putus asa, dan akhirnya bunuh diri. Kapitalisme juga berasaskan sekulerisme yang menjauhkan keluarga dan masyarakat dari ketakwaan. Hidup hanya dipandang sebatas materi sementara iman dan pemahaman terhadap qadha (takdir) semakin minim.
Padahal Islam mengajarkan setiap ujian hidup datang dari Allah dan kelak tidak akan melebihi kemampuan hamba-Nya. Namun karena Islam hanya dipahami sebatas ritual, masyakarat kehilangan pegangan hakiki yang seharusnya bisa menjadi penopang menghadapi tekanan hidup. Lebih parah lagi penguasa yang seharusnya menjadi pengurus rakyat justru berubah menjadi pelayan kepentingan investor. Kebijakan yang lahir bukanlah untuk menyejahterakan rakyat melainkan mempermudah akumulasi kapital segelintir orang. Rakyat dipaksa mandiri mengejar kesejahteraan, keadilan, dan keamanan.
Sesuatu yang seharusnya dijamin negara, beban hidup pun menumpuk, meninggalkan beban batin yang mendalam. Semua problem bunuh diri bukan persoalan individu semata. Melainkan problem sistemik dan kompleks yang lahir dari penerapan kapitalisme. Selama masyakarat masih bertahan dalam sistem ini, lingkaran penderitaan dan tragedi bunuh diri tidak akan pernah berhenti. Jalan keluar sejati penerapan Islam sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh, menghadirkan distribusi kekayaan yang adil bagi seluruh rakyat.
Berbeda dengan kondisi hari ini di bawah sistem kapitalisme yang menjerumuskan rakyat pada penderitaan hingga banyak yang memilih bunuh diri. Islam telah menyediakan solusi nyata melalui penerapan syariat secara kaffah dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Negara Khilafah sendiri diatas akidah Islam dan menempatkan penguasa sebagai raa'in (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab penuh terhadap urusan umat. Rasulullah saw. bersabda, "Imam (Khalifah/kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya." (HR. Al Bukhari)
Wallahualam bissawab
