![]() |
| Oleh: Izzatusy Syifa ul khatimah Generasi Peduli |
Sebuah fakta yang tidak mengagetkan lagi, bila ibu bunuh diri setelah meracuni kedua anaknya untuk menghentikan derita kemiskinan dalam hidup, seperti yang terjadi di Kabupaten Bandung. Atau fakta seorang anak mati dalam keadaan tubuhnya dihinggapi ratusan cacing gelang, ibunya dalam gangguan jiwa, dan bapaknya yang menderita tbc tidak bisa berobat hanya karena tidak memiliki KK dan BPJS.
Tidak cukup di situ, angka bunuh diri juga naik 60% di lima tahun terakhir. Dan diyakini pula, angka yang sebenarnya lebih besar lagi, karena banyaknya kasus yang tidak terlaporkan. Meski penyebabnya beragam, tapi kemiskinan dan kemelaratan adalah faktor yang memiliki andil besar atas kasus kasus di atas. Bahkan, menjadi pemicu filisida maternal (pembunuhan anak oleh ibu), karena tidak tega melihat anaknya hidup menderita kemiskinan, sehingga mengira mati adalah plihan yang tepat.
Padahal, bila kita mengingat posisi diri kita sebagai makhluk sekaligus hamba Allah yang seharusnya taat terhadap perintah dan laranganNya, mengetahui bahwa Allah sendiri telah melarang manusia untuk bunuh diri. Seperti dalam firmanNya, "Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian." (QS. An nisa [4]: 29).
Apalagi membunuh anak karena takut miskin adalah salah satu dosa paling besar seperti yang disebutkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadis, "Dari Ibnu Mas’ud ra. berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw., "Dosa apakah yang paling besar?” Beliau menjawab, ”Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakan dirimu.” Aku bertanya lagi, ”Kemudian apa?” Beliau menjawab, ”Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersama dirimu.” (Muttafaq ‘alayh).
Lalu bagaimana cara seorang muslim menghadapi situasi dan kondisi yang sudah di ujung tanduk ini? Apakah Islam memiliki solusi yang realistis untuk diterapkan saat ini juga? Jawabannya, tentu Ada. Rasulullah saw. sendiri yang menunjukkan kepada kita, ada 4 langkah yang beliau ajarkan, Rasulullah membangun masyarakat yang tidak hanya beragama Islam, tapi memiliki akidah yang kokoh. Akidah yang kokoh akan memancarkan keyakinan hidup terhadap rezeki yang sudah pasti dijamin Allah. Muncul juga sikap tawakal (bukan pasrah) dan optimis. Karena mengimani seluruh firman Allah dalam Al-Qur'an termasuk, "Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Hud [11]: 6). Juga kepada hadis Rasulullah saw., "Janganlah kalian berputus asa dari rezeki Allah selama kepala kalian masih bergerak. Sesungguhnya manusia itu dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah, tidak memiliki apa pun, lalu Allah ‘Azza wa Jalla memberi dia rezeki." (HR. Ibnu Majah).
Inilah problem paling mendasar yang harus diperbaiki terlebih dahulu. Karena seperti yang kita tahu, muslim Indonesia meski mayoritas, tetapi tidak menjadikan Islam sebagai dasar kehidupan. Maka wajarlah bila mafhum keyakinan akan rezeki dan tawakal kepada Allah yang sahih tercabut dari benak masyarakat. Akibatnya, kehidupan yang mudah rapuh dan mudah hancur saat diuji perihal rezeki. Bahkan tidak jarang terjadi kepada masyarakat termasuk remaja mengalami overthinking terhadap masa depan, yang bahkan jangankan tahu, terjadi pun belum. Rasulullah saw. mengajarkan kita tentang kesabaran ketika menghadapi kesulitan dalam kehidupan. Beliau sering mengikat perutnya dengan batu, dan berpuasa ketika tahu istri-istrinya tidak memiliki makanan. Beliau juga sering memakan gandum kasar, yang bahkan untuk menelannya membutuhkan bantuan air.
Sabar juga bukan sabar yang mengarah kepada pasrah akan keadaan, tetapi sabar yang disertai ikhtiar menjemput rezekiNya.
Rasulullah saw. juga menghimbau kepada seluruh kaum laki laki untuk bersungguh-sungguh mencari nafkah, dengan kata lain tidak malas apalagi meminta-minta. Beliau bersabda, "Sungguh, seandainya salah seorang dari kalian mengambil seutas tali, kemudian kembali dengan memikul seikat kayu bakar di atas punggungnya, lalu dia menjual kayu itu sehingga dengan itu Allah menjaga wajah (kehormatan)-nya, hal itu lebih baik bagi dirinya daripada dia meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi atau menolaknya." (HR al-Bukhari).
Rasulullah saw. juga memberi teladan kepada kita untuk memiliki empati terhadap orang terdekat kita terutama tetangga. Dengan cara saling memperhatikan dan memberi. Sabdanya, "Tidak beriman kepada diriku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahuinya." (HR ath-Thabrani).
Bila tadi adalah solusi yang Rasulullah saw. contohkan dalam lingkup pribadi dan bermasyarakat, ada satu solusi praktis yang bisa menyelesaikan problem ini secara menyeluruh. Apa itu? Peran negara.
Karena Rasulullah saw. adalah sosok mulia yang sempurna, bahkan dalam mengurus negara. Karena rakyat tidak akan bisa hidup tenang dan damai tanpa peran negara. Dan memang kewajiban pemimpin negara untuk menjamin kehidupan rakyatnya, tanpa melalaikan mereka. Beliau bersabda, "Tidak seorang pun pemimpin yang menutup pintunya untuk orang yang membutuhkan, orang yang kekurangan dan orang miskin, kecuali Allah akan menutup pintu langit dari kekurangan, kebutuhan dan kemiskinannya." (HR at-Tirmidzi).
Terakhir, kita semua tahu ini bukan lagi masanya di mana kita bisa menutup mata tentang apa yang terjadi di dunia. Kita sadari, Allah yang Maha Pencipta, Maha Baik juga Maha Bijaksana telah mengatur ciptaanNya melalui buku petunjuk juga utusan yang mustahil ada keraguan apalagi kesalahan di dalamnya. Namun, sombongnya manusia menerapkan hukum sekularisme (memisahan agama dari kehidupan) untuk memenuhi hawa nafsunya. Maka, inilah akibatnya. Dan tidak ada solusi yang lebih baik lagi selain kembali menerapkan hukum pencipta kita, seperti yang pernah terbukti kejayaannya di seratus tahun silam.
Wallahualam bissawab.
