Oleh Herra
Aktivis Muslimah
EN, perempuan 34 tahun, ditemukan tewas gantung diri di kusen pintu kamarnya. Dua anaknya yang berusia 9 tahun dan 11 bulan ditemukan tak bernyawa tak jauh dari sang ibu. Kesimpulan sementara polisi kematian ketiganya bukan ulah orang luar, melainkan orang yang ada di lokasi kejadian di Kampung Cae, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran kab.bandung. Menurut polisi, kemungkinan besar sang ibu adalah pelaku penganiayaan terhadap kedua anaknya. Kesimpulan ini diperkuat dengan penemuan surat wasiat yang ditulis oleh sang ibu. Surat itu mengungkapkan masalah keluarga, tepatnya kesulitan ekonomi, dan berisi pula permintaan maaf untuk seluruh keluarganya, termasuk kepada kedua anaknya yang telah meninggal. Kasus bunuh diri dengan dugaan motif ekonomi tidak sekali ini saja terjadi, terutama dalam rentang 2023 sampai 2025. (BBC News indonesia, 10 September 2025)
Kematian ibu dan dua anak di Kabupaten Bandung memperlihatkan betapa jalan untuk menyelesaikan masalah sudah begitu "buntu," Dan bunuh diri dengan faktor ekonomi yang berdiri di belakangnya sudah mengarah ke fenomena sosial. Maraknya kasus bunuh diri karena ekonomi memperlihatkan betapa realita di lapangan tidak seindah yang sering diklaim pemerintah.
Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri menunjukkan tren bunuh diri cenderung meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun, sejak 2019 hingga 2023. Pada 2019, terdapat 230 kasus. Lalu naik ke titik 640 kasus setahun setelahnya. Penyebab bunuh diri tidak pernah tunggal. Meski begitu, berdasarkan laporan Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri, masalah perekonomian menjadi alasan paling banyak yang memicu bunuh diri pada 2024, sekitar 31,91%.
Lapangan kerja yang menyempit, daya beli masyarakat yang merosot, hingga pemutusan hubungan kerja yang masif bermunculan adalah hal-ihwal yang benar-benar dirasakan masyarakat, utamanya kelompok ekonomi menengah ke bawah, dalam kehidupan sehari-hari. Ketika situasi terbatas, maka jalan pintasnya yakni pinjaman atau judi online, yang sayangnya tidak menyelesaikan apa pun dan malah menempatkan masyarakat di bawah tekanan. Ini bukti kegagalan negara dalam menjamin kehidupan yang layak bagi kalangan menengah ke bawah.
Miris. Disaat penguasa hari ini sibuk Flexing dan berebut kekuasaan, rakyat di bawah sibuk mempertahankan hidup. inilah buah dari sistem yang berlaku hari ini. Sistem sekuler di mana penguasa fokus hanya untuk dirinya sendiri dan partainya. Lupa bahwa kekuasaan adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban di akherat kelak.
Dalam sistem Islam penguasa adalah seperti penggembala yang akan memastikan gembalaannya (rakyat) terpenuhi kebutuhan dasarnya, dijaga akidahnya. Terlebih penguasa akan menjadi support system rakyat untuk menjalankan segala perbuatan sesuai dengan hukum Allah termasuk menjauhi aktivitas yang haram salah satunya tentang judi. Landasan sistem Islam bersumber kepada Al-qur'an dan Sunnah di mana halal haram menjadi patokan sebuah perbuatan bagi rakyat dan penguasanya, segala sesuatu yang melakukan aktivitas kemaksiatan akan di hukum sesuai dengan sanksi Islam.
Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim yang menyatakan, "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya" (HR Bukhari dan Muslim).
Seharusnya dalil ini cukup bagi penguasa hari ini untuk memberikan perhatian kepada rakyat terkait ekonomi dan seluruh aspek lainnya.
Sudah saatnya kita kembali kepada aturan yang bersumber kepada Al-qur'an dan Sunnah agar kita merasakan kemaslahatan dan kita mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Aamiin.
Wallahualam bissawab
