![]() |
| Oleh: Neny Nuraeny Pegiat Literasi Islam |
Dilansir dari inilahkoran, harga beras premium sejak tiga pekan terakhir mengalami kenaikan dan membuat para pelaku usaha restoran, cafe dan hotel di Kabupaten Bandung kebingungan. Meskipun terjadi kenaikan harga beli beras, mereka tidak dapat menaikan harga jual pada konsumennya. Harga semakin naik salah satunya semenjak adanya oplosan beras premium. Sebelumnya kisaran 14.500 per kilo sekarang menjadi 15.000 per kilonya. Kenaikan selanjutnya diduga di pengaruhi oleh banyaknya dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang serentak memenuhi kebutuhan dapur. (Bandung, 28 Agustus 2025)
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebutkan adanya anomali di sektor pangan. Meski produksi beras nasional mengalami surplus, harga di pasaran tetap tinggi. Sulplus 3,7 ton tercatat dibanding tahun lalu, harga di pasaran justru masih melambung tinggi. Walaupun pemerintah sudah mencari solusi dengan penyaluran beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan bantuan pangan besar 10 kilo. Namun kebijakan nya sejauh ini tidaklah efektif. Harga masih tetap tinggi.
Swasembada Beras Ala Kapitalisme
Kondisi ini mencerminkan pengelolaan pangan yang tidak berjalan lancar. Terjadi kejanggalan dari hulu ke hilir. Rantai pendistribusian beras sangat panjang yang dikuasai oleh segelintir pengusaha. Dalam kapitalisme, sistem ekonominya pun memberikan ruang bagi pedagang besar untuk mengendalikan harga. Sementara petani dan konsumen berada di posisi yang paling lemah. Harga dari petani sangat murah, tetapi ketika sampai di tangan konsumen justru melambung tinggi. Sehingga pangan atau beras tidak menjadi hak dasar rakyat yang wajib dijamin oleh negara, melainkan komoditas yang dapat diperdagangkan demi meraih keuntungan ekonomi. Negara hanya berperan sebagai regulator bukan penjamin pemenuhan kebutuhan rakyat.
Disinilah cacat nya sistem kapitalisme yang membiarkan harga dimainkan para kapitalis elit. Selain itu, sistem ekonomi kapitalis tata kelolanya memosisikan beras sebagai komoditas ekonomi yang berfokus pada pencarian keuntungan semata, bukan sebagai kebutuhan utama yang harus dipenuhi bagi seluruh warga. Negara tidak benar-benar menjamin kebutuhan rakyat, hanya memastikan jika stok beras itu ada, tidak peduli harga mahal atau tidak. Sehingga para pengusaha yang terbiasa membeli beras premium mengalami kesulitan.
Jaminan Pangan dalam Islam
Berbeda dengan Islam yang menawarkan paradigma pengelolaan pangan yang menempatkan negara sebagai penjamin kebutuhan rakyat. Islam memandang bahwa negara yang mengatur seluruh urusan umat, termasuk kebutuhan beras. Seorang imam akan memastikan setiap individu terpenuhi kebutuhannya. Karena dalam pandangan Islam, pemimpin atau imam adalah raa’in (pengembala) yang bertanggung jawab penuh dan memastikan kebutuhan pokok rakyat termasuk pangan (beras) banar-benar tersedia. Dari sisi kualitasnya pun akan sangat bagus dan diperoleh dengan harga yang terjangkau.
Rasulullah saw bersabda:
“Seorang imam adalah pengembala, dan ia dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang digembalanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan begitu tugas negara, tidak hanya menyediakan dan menstabilkan harga. Namun memastikan juga beras berkualitas dapat diakses oleh masyarakat dengan harga yang adil.
Dalam sistem pemerintahan Islam, tata kelola pengan tidak dibiarkan tunduk dan patuh pada mekanisme pasar kapitalis yang pro pada pengusaha elit. Negara akan membenahi jalur distribusi besar dari hulu ke hilir. Mulai dari mendukung penuh terhadap produksi petani, memperbaiki sistem pengelolaan padi ke beras atau penggilingan, hingga menyalurkan beras dengan pengawasan yang cukup ketat. Dengan begitu segala bentuk kecurangan, dan praktek haram yang lainnya seperti penimbunan, monopoli, atau oligopoli akan diberantas tegas. Rasulullah saw. bersabda:
“Tidaklah menimbun kecuali orang yang berdosa.”
(HR. Muslim)
Dengan begitu, harga beras akan stabil, tidak akan dikendalikan oleh segelintir pedagang besar. Tetapi akan terus dijaga kestabilannya untuk semua kalangan masyarakat. Selain itu, sistem Islam memberikan mekanisme pemberian secara langsung berupa beras gratis bagi masyarakat miskin melalui Baitul Maal. Para pengusaha kecilpun akan terus beroperasi, tidak terkendala beras mahal. Anggaran untuk pemenuhan itu semua selalu tersedia, baik dari pos zakat, kharaj, fa’i maupun dari pemasukan lainya. Maka para pengusaha tidak akan mengeluh lagi soal beras premium mahal. Karena semua beras yang disediakan berkualitas tinggi.
Sebagai contoh di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, distribusi dan keadilan ekonomi berjalan dengan baik, sehingga hampir tidak ada rakyat miskin yang layak menerima zakat. Karena kebutuhan dasar mereka telah tercukupi dengan baik. Inilah bukti nyata kesempurnaan Islam dalam mengatur kehidupan termasuk ekonomi. Islam menjadikan pemimpin sebagi penanggung jawab penuh dalam urusan pangan rakyat nya. Harga akan stabil dan terjangkau. Semua lapisan masyarakat akan mudah mendapati beras premium. Baik sebagai pengusaha atau rakyat biasa. Inilah perbedaan sistem kapitalisme dengan Islam. Tidak akan ada lagi yang mengeluh karena usaha nya tidak berjalan lancar. Situasi seperti ini hanya dapat terwujud ketika kesempurnaan Islam diterapkan secara menyeluruh.
Wallahualam bishawab
