![]() |
| Oleh : Ummu Aidzul Tenaga Pendidik |
Generasi Tangguh Muncul dalam Kesulitan
Gaza begitu fenomenal saat ini, karena penderitaan rakyat nya yang tak kunjung berhenti. Diperangi oleh Israel dengan kondisi yang tidak seimbang. Israel yang mendapat sokongan militer penuh dari Amerika, sedangkan Palestina hanya memiliki pejuang Hamas dengan alat militer dan jumlah personil yang minim. Negara muslim lainnya tidak ada yang mengirimkan tentara untuk mengusir tentara zionis.
Para penjajah terus berusaha mengosongkan wilayah ini, tidak hanya melalui pengeboman. Bahkan, kondisinya kini rakyat dibiarkan mati perlahan dalam kelaparan. Bantuan kemanusiaan yang dikirim justru tertahan di pintu perbatasan. Sungguh menyayat hati nurani.
Namun, kondisi sulit ini tidak menyurutkan semangat mereka untuk berjuang mempertahankan tanah air. Mereka pun tetap memiliki semangat untuk belajar, menghafal Quran. Bahkan anak-anak Gaza tetap semangat belajar meski tidak ada orang tua yang mendampingi. Sebanyak 1.000 anak yatim piatu mengikuti wisuda di sekolah khusus Al-Wafaa Orphan Village di Khan Younis, Gaza (18-8-2025).
Kondisi berbeda justru dialami negeri muslim yang lain. Melesatnya perkembangan teknologi saat ini justru berbanding terbalik dengan perkembangan mental generasi. Keberadaan teknologi yang memudahkan kehidupan manusia, namun melemahkan jiwa para pemuda. Banyak istilah bermunculan seperti generasi strawberry, mental illness yang menunjukkan kondisi para pemuda tidak sedang baik-baik saja. Kini muncul istilah duck syndrome yang melanda para pelajar di jenjang perguruan tinggi.
Duck Syndrome dan Sekularisme
Duck syndrome pertama kali muncul di Universitas Stanford Amerika, para mahasiswanya terlihat tenang namun sebenarnya mereka menyimpan stress karena di alam bawah sadar merasakan banyak tekanan. Kondisi ini sekarang menyebar dan dirasakan juga oleh mahasiswa Indonesia. Mahasiswa saat ini berusaha untuk memenuhi standar yang tinggi baik itu dalam nilai maupun keorganisasian. Memenuhi tuntutan yang berasal dari luar dirinya bukan keinginannya sendiri. Mereka berusaha untuk tampil perfeksionis dalam banyak hal dan menyembunyikan kelemahan mereka. Budaya ini sepintas seperti baik-baik saja namun berbahaya karena bisa menimbulkan kecemasan kronis, depresi.
Kondisi ini muncul akibat iklim sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya individu tidak memiliki pemahaman agama yang kuat. Tidak memiliki tujuan hidup yang benar dan mengadopsi standar hidup orang banyak. Tidak adanyan jati diri dan mudah terbawa arus. Sistem kapitalis menimbulkan krisis multidimensi yang sulit dihadapi oleh individu.
Sedangkan di belahan bumi Gaza diskusi keislaman tetap berjalan. Para ibu juga nenek yang tetap berupaya memberikan pendidikan kepada anak-anak. Menyampaikan pemahaman dan pembentukan generasi Qurani penjaga masjid Al-Aqsa. Kondisi perang tidak menjadi alasan anak-anak untuk berhenti belajar. Mereka tetap belajar meskipun tidak mendapatkan bimbingan dari orang tua.
Persatuan Umat Bebaskan Palestina
Namun kondisi ini sungguh tidak ideal. Anak Palestina butuh untuk diselamatkan dan keluar dari kondisi mengerikan ini. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan yakni melalui persatuan umat untuk menegakkan kekuatan negara Islam. Dia yang akan memberikankomando kepada tentara kaum muslimin untuk berjihad melawan Israel dan Amerika. Karena kehidupan indah bagi anak-anak Palestina hanya ada dalam naungan syariat Islam melalui penegakkan Khilafah. Khilafah merupakan sistem pemerintahan Islam yang akan memberikan perlindungan kepada rakyat. Seorang pemimpin dalam sistem Islam yakni Khalifah akan menjadi junnah atau perisai bagi umat sebagaimana sabda Rasulullah saw. "Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya. "
(HR Mutafaq 'Alaih)
Upaya penegakkan pemerintahan Islam ini membutuhkan bantuan dari umat, termasuk pemuda atau mahasiswa muslim. Para pemuda harus menjadikan ketangguhan anak-anak Gaza sebagai inspirasi dan tidak terjebak dengan duck syndrome. Ideologi Islam yang telah menancap pada diri individu akan menghasilkan generasi yang tangguh seperti para sahabat di masa Rasulullah.
Bukti ideologi Islam melahirkan generasi tangguh bisa dilihat pada sosok Usamah Bin Zaid yang membawa kemenangan gemilang saat menjadi panglima perang pada ekspansi melawan pasukan Romawi. Dan yang tidak kalah fenomenal Muhammad Al Fatih yang melakukan Konstantinopel di usia 21 tahun.
Sebagai seorang muslimah tentu kita harus kembali kepada identitas diri sebagai muslim sejati yang menjadikan rida Allah sebagai standar. Membuang jauh standar kapitalisme yang melelahkan dan membuat stress. Kita harus melek politik dan memahami perubahan itu membutuhkan penerapan sistem Islam secara kafah sebagai solusi krisis multidimensi termasuk membebaskan Palestina. Islam yang jika diterapkan akan menimbulkan keberkahan dari langit dan bumi sebagaimana firman Allah Swt dalam Qas Al-A'raf ayat 96.
"Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. "
Wallahualam bissawab.
