![]() |
| Oleh: Sahari Ramadhani (Penulis, Tokoh Pendidikan) |
Cerpen -- Mak Nur kembali terduduk di pintu rumahnya yang tak patut disebut rumah permanen. Pandangannya jauh. Ia terduduk bukan karena lelah selesai memasak gorengan untuk ditaruh di kedai sarapan, bukan juga karena ia sedang tak enak badan. Ia terduduk sebab menunggu anaknya pulang. Bak pungguk merindukan bulan, tiap hari ia duduk di pintu menanti keajaiban kalau-kalau ada orang berseragam itu datang kembali bersama anaknya sembari meminta maaf kepadanya. Dan, mengatakan bahwa anaknya tak bersalah. Karena memang, menurutnya anak bujangnya itu tak bersalah.
“Bagaimana mungkin anakku bisa menjadi antek-antek orang yang hendak mengusik negara atau mengusik orang lain? Bagaimana anakku ini mampu membobol akun-akun apa namanya itu yang punya negara itu? Bagaimana mungkin, punya komputer saja tidak. HP pun ini HP murah yang cuma bisa buat telepon, WA-an, terus apalagi itu namanya tektok, instagame, efbi, entah apa lagi itu Namanya. Lagian sehari-hari kerjanya cuma bantu maknya ini masak gorengan,” ujar Mak Nur menggebu-gebu saat polisi datang ke rumahnya menjemput anak bujangnya yang diduga menjadi salah satu peretas akun pemerintah dan akun lain yang dianggap penting.
Badrul nama anak bujang Mak Nur yang diseret polisi tempo hari. Waktu itu dia sedang khusyuk mengupas kulit pisang untuk dijadikan gorengan yang biasa dibuat maknya. Tiba-tiba beberapa polisi mengetuk pintu rumahnya dengan agak keras, hampir seperti menggedor. Mak Nur langsung menuju pintu diikuti Badrul. Tak banyak basa-basi, polisi langsung mengeluarkan surat perintah penangkapan Badrul atas dugaan meretas akun pemerintah. Sejenak Mak Nur dan Badrul melongo, lalu kemudian barulah Mak Nur menceracau, tak terima anaknya dijadikan tersangka peretasan akun pemerintah yang tengah viral itu. Mak Nur mencak-mencak, berusaha menahan anak semata wayangnya agar tak dibawa oleh polisi. Begitu pun Badrul, sebisa mungkin ia menahan dirinya agar tak terseret oleh polisi, sampai-sampai ia bergantung di kosen pintu rumahnya.
Perlahan tangan Badrul lepas dari kosen pintu. Mak Nur tersungkur, syok. Kemudian, Mak Nur sekuat tenaga kembali berdiri, menjangkau tangan Badrul, memegang sekuat-kuatnya. Namun, seberapa lah kuat tenaga seorang wanita tua. Akhirnya, lepas. Mak Nur tersungkur lagi, hampir tengkurap kali ini.
“Badruuuul!” tangan Mak Nur sempurna lepas diiringi cucuran air mata di pipi keduanya.
Hal itulah yang selalu membuat Mak Nur terhenyak tiba-tiba, kemudian pipinya lagi dan lagi basah.
Beberapa hari sempat Mak Nur hanya duduk termenung tanpa melakukan apa-apa di kamarnya. Bayangan anak bujang satu-satunya muncul ke mana pun ia melihat, bahkan saat memejamkan mata sekalipun. Di setiap helaan napasnya, terasa jelas genggaman erat terakhir saat perpisahan itu. Pun, setiap ia tak sengaja menggenggam tangannya sendiri, ia teringat cengkraman erat anaknya. Tak berhenti air keluar dari mata Mak Nur. Sampai-sampai Mak Nur jatuh sakit. Untung saja seorang tetangga yang lewat saat itu mendengar suara rintihan Mak Nur, mampir dan dia membawa Mak Nur ke puskesmas. Selain membawa berobat, tetangga yang merupakan orang yang tersebut bijak itu menasehati Mak Nur bahwa tidak baik tenggelam dalam kesedihan.
“Ada langit di atas langit! Tuhan! Tuhan pasti akan menampakkan keadilan-Nya. Mak harus bersabar lebih lagi. Yakinlah! Akan datang pertolongan Tuhan satu saat,” ujarnya.
Mendengar itu, sedikit tersembur binar di mata Mak Nur. Ia tersenyum, berterima kasih. Sejak saat itu, walaupun masih dalam keadaan sakit, walaupun Mak Nur masih juga sering termenung, namun Mak Nur sudah mulai tegar dan menjalani hidupnya kembali. Tak putus doanya agar anak bujangnya segera pulang.
Sementara di dalam sebuah ruang petak tiga kali tiga berjeruji besi, Badrul duduk tersudut. Orang yang satu sel dengannya dan beberapa yang berada di sel yang berseberangan dengannya selalu mengejek Badrul, mencemooh, menghujat dengan kasar, mengatakan bahwa Badrul adalah orang bodoh yang kehabisan kerjaan. Bahkan, ada juga yang mengatakan Badrul sok hebat mampu menerobos akun pemerintah. Banyak lagi celaan yang diterima Badrul, sampai-sampai satu kali ada yang meludahinya.
Badrul yang sejatinya pendiam, pernah sekali melawan. Bukan karena diludahi, melainkan karena ia tidak terima nama maknya dibawa-bawa.
“Heh, bujang tengik, dikasi makan apa lo sama mak lo, hah? Sampai sombong banget lo berlagak menjadi hacker segala. Hacker, hacker, malah jadi keder lo. Hahahaha,” hujat seorang lelaki paruh baya yang dipenjara karena melakukan cyber bullying. Diikuti oleh tawa penghuni sel lainnya.
Tanpa ia sadari, kepalan tinju Badrul mendarat tepat di hidungnya. Lelaki itu terpental dengan hidung berdarah. Langsung berdiri, dan membalas pukulan di perut Badrul. Meringkuk sebentar, lalu Badrul berdiri kembali mengejar, menghantamkan kaki ke pundak lelaki tersebut. Balas-membalas, begitu seterusnya, heboh. Sampai akhirnya petugas datang dan melerai keduanya, kemudian mereka dipisahkan. Badrul kini sendiri dalam sel yang lebih sempit.
Ia terduduk, kesakitan. Sakit yang kini tak hanya sakit badan saja. Ia menahan rindu teramat dalam. Rindu pada maknya. Apa kabar perempuan terbaiknya itu di rumah? Dengan siapa tidurnya? Siapa yang membantunya membuat gorengan kini? Badrul akhirnya terisak. Sakit badan bisa saja ia tahan, tetapi sakit menahan rindu, siapa yang kuat menahannya. Menusuk rasanya menahan rindu pada orang tercinta. Apa yang bisa diperbuat? Tak ada. Menahan hati, itu saja.
Di rumahnya, Mak Nur beberapa kali dikunjungi oleh tetangga yang saat itu menolongnya. Ia ajak bercerita. Kemana-mana ceritanya. Intinya bagaimana Mak Nur tetap bersemangat dan yakin Badrul akan pulang kembali karena ia tak bersalah.
“Mak, lihat ini, banyak sekali masyarakat yang mendukung Badrul, ada yang membuat tulisan di koran tentang aparat yang salah tangkap. Banyak yang membuat tulisan di media sosial online, dan ada juga ini beberapa orang yang sampai membacakan puisi dan menyampaikan orasi di video yutub, meminta agar Badrul dibebaskan,” tuturnya bersemangat sambil memperlihatkan layar pintarnya pada Mak Nur.
Mak Nur tersenyum getir. Air yang menggantung di pelupuk matanya jatuh.
“Semoga engkau kabulkan, Tuhan. Kembalikan anak hamba, kabulkan kami berkumpul kembali,” rintih Mak Nur. Terbatuk-batuk kecil, batuk yang ditahan.
Beberapa hari belakangan Mak Nur mengalami batuk kering yang parah, tak jarang tersembur darah. Hanya ia yang tahu. Ia tahan saja, tak ingin merepotkan tetangga. Ia biarkan batuk itu mendera, batuk yang telah membuat dada dan tulang punggungnya sakit. Entah sakit apa, ia biarkan saja.
Kini genap dua bulan Badrul ditahan. Dan, dalam minggu ini penyelidikan akan dilakukan kembali, menindaklanjuti banyaknya masyarakat yang mendesak aparat melalui media sosial dan demonstrasi untuk menegakkan keadilan, membebaskan Badrul. Penelusuran informasi diperdalam lagi oleh berbagai pihak. Semuanya menggencarkan kembali pelacakan peretas yang tak kunjung ditemukan itu. Seberapa ruginya pihak yang diretas, tentu hanya pihak tertentu yang mengetahui. Namun, tak peduli dengan itu, setidaknya Badrul merasakan keadilan yang selalu dielu-elukan. Keadilan yang menjadi salah satu sila dasar penegak negeri ini.
Beberapa hari berlalu, akhirnya diberitakan secara langsung di beberapa kanal televisi bahwa tahanan atas nama Badrul dinyatakan tidak bersalah. Telah diperoleh bukti bahwa memang Badrul bukan termasuk salah satu peretas yang tengah viral itu. Badrul akan pulang ke rumahnya. Tak dapat diungkap dengan kata-kata, Badrul hanya meneteskan air mata. Sebentar lagi rindunya akan terobati.
Mak Nur, dalam kamar kecilnya, sudah beberapa hari tergeletak tak berdaya. Jangankan berjalan, untuk membalik badan pun ia tak kuasa. Beberapa kain terletak begitu saja di samping ranjangnya, berdarah. Kain yang ia pakai menutup mulut saat batuk. Sakit di dada dan yang paling sakit ialah menahan hati, menahan rindu, itu yang ia tanggung seorang diri. Tetangga yang biasa mendatanginya telah seminggu ke luar kota.
Mak Nur tidak tahu bahwa semata wayangnya akan pulang. Ia pejamkan mata perlahan, mengalir setetes air dari sudut matanya. Ia tarik napas dalam dan mengembuskannya kembali. Mak Nur pergi, selamanya. Sebelumya, dalam hati Mak Nur berbisik, “Tuhan, jaga anakku, anak yang Engkau amanahkan kepadaku. Izinkan kami berkumpul kembali kelak di sisi-Mu.”
Ramai orang berdatangan ke rumah Mak Nur saat tetangga yang biasa mengunjunginya balik dari luar kota dan mendapati Mak Nur telah berpulang. Saat itu pula Badrul pulang dengan senyuman. Senyuman yang dalam satu detik berubah menjadi tangisan. Tangis yang mungkin akan sering ia ulangi, tangis menahan rindu berkepanjangan, rindu yang entah bagaimana hendak ia obati.
