Oleh Rukmini
Aktivis Muslimah
Sesuatu tampaknya sedang tidak beres di negara adidaya yang selama ini membanggakan dirinya sebagai "pengatur dunia". Amerika Serikat, yang sering berperan sebagai penegak hukum internasional, kini justru menghadapi gelombang protes dari warganya sendiri.
Aksi "No Kings" pada 28 Maret 2026 benar-benar mengguncang Amerika Serikat! Jutaan warga turun ke jalan di berbagai negara bagian, menunjukkan kekecewaan yang tak bisa dibendung lagi. Mereka mempertanyakan arah kepemimpinan dan meragukan sistem yang selama ini mereka banggakan.
Demonstrasi ini merupakan bentuk penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump, terutama terkait isu ekonomi, konflik internasional, dan kebijakan imigrasi. Aksi ini disebut sebagai salah satu protes terbesar dalam sejarah modern AS, dengan partisipasi mencapai 8 juta orang di lebih dari 3.300 titik di seluruh 50 negara bagian. (cnnindonesia.com, 29-03-2026)
Di saat yang sama, ekonomi Amerika Serikat juga menghadapi tekanan serius. Utang nasionalnya telah mencapai US$ 39 triliun, menunjukkan beban besar yang harus ditanggung negara itu, bahkan hingga setiap warganya sejak lahir. (cnbcindonesia.com, 22-03-2026)
Dua fakta ini cukup menjadi cermin bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sistem yang selama ini dipuji ternyata tidak kuat. Ia memiliki kelemahan fundamental yang perlahan mulai terungkap.
Persoalan ini memang tidak hanya tentang krisis ekonomi atau gejolak politik, tapi juga tentang sistem kehidupan yang dibangun di atas asas sekularisme. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sehingga manusia diberi kewenangan mutlak untuk menentukan hukum tanpa merujuk pada wahyu Allah.
Sesungguhnya Allah Swt. telah memperingatkan dalam Al-Qur’an: "Apakah mereka ingin kembali ke hukum jahiliah? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?" (TQS. Al-Ma’idah: 50)
Ayat ini menunjukkan bahwa meninggalkan hukum Allah dan menggantinya dengan ciptaan manusia adalah bentuk kesesatan. Dan saat ini, akibatnya jelas: ketidakadilan merata, konflik berkepanjangan, serta kerusakan yang meluas di berbagai belahan dunia.
Lebih menyedihkan lagi, beberapa negara Muslim justru terperangkap dalam pusaran sistem ini. Bahkan banyak penguasa yang menjalin aliansi dengan kekuatan besar dunia, meskipun jelas kebijakan itu merugikan umat Islam.
Padahal Rasulullah saw. telah memperingatkan: "Pemimpin adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah kepercayaan, bukan sarana untuk mengabdi pada kepentingan luar atau kelompok tertentu. Tapi kenyataan hari ini malah berbeda. Maka, umat Islam tidak boleh terus dalam keadaan lengah. Kesadaran politik harus ditingkatkan. Umat harus sadar bahwa masalah yang terjadi bukan hanya kesalahan individu pemimpin, tapi akibat dari sistem yang korup.
Islam menawarkan solusi yang berbeda secara mendasar. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam Islam, hukum bersumber dari wahyu, bukan dari kesepakatan manusia yang berubah-ubah.
Allah Swt. berfirman: "Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (TQS. Al-Jatsiyah: 18)
Ayat ini mengingatkan bahwa syariat Islam adalah satu-satunya pedoman hidup yang benar. Maka, umat harus diarahkan pada perjuangan besar: menegakkan sistem Islam dalam kehidupan. Bukan hanya memperbaiki diri, tapi menciptakan tatanan yang menjamin keadilan untuk semua.
Khilafah sebagai institusi kepemimpinan Islam punya peran penting dalam menerapkan syariah secara kaffah. Dengan hukum Allah yang diterapkan sepenuhnya, keadilan bukan hanya kata-kata, tapi kenyataan yang dirasakan semua orang.
Rasulullah saw. bersabda: "Lalu akan ada Khilafah yang mengikuti jalan kenabian." (HR. Ahmad) Hadis ini memberi kabar baik dan arah perjuangan bagi umat Islam. Bahwa suatu saat sistem Islam akan kembali berdiri, menggantikan sistem yang korup.
Jelas, jalan ke arah itu butuh keseriusan. Mulai dari bangun kesadaran, sampaikan kebenaran, sampai ajak umat bersatu dalam perjuangan yang sama. Apa yang terjadi di Amerika hari ini seharusnya menjadi pelajaran berharga. Bahwa sistem yang dibangun tanpa wahyu tidak akan pernah mampu memberikan keadilan sejati.
Saatnya umat Islam ambil bagian. Bukan cuma jadi penonton, tapi jadi pelaku perubahan. Kembalikan Islam sebagai cara hidup, dan hadirkan lagi kepemimpinan yang atur dunia dengan hukum Allah. Inilah jalan yang benar, dan satu-satunya jalan yang bisa selamatkan manusia dari kerusakan yang makin parah.
Wallahualam bissawab.
.jpeg)