Krisis Nilai di Balik Kedisiplinan Siswa




Oleh Rukmini 

Aktivis Muslimah


Setiap mendengar berita tentang pelajar yang terlibat dalam pelanggaran, ada perasaan sesak yang muncul. Bukan hanya karena tindakan mereka yang salah, tapi karena kita sadar ada sesuatu yang terlewatkan dalam proses pembinaan mereka. Ada ruang kosong yang dibiarkan terbuka, lalu diisi dengan prinsip-prinsip yang tidak tepat.

Satpol PP Kota Bengkulu mengamankan beberapa siswi yang menyamar menjadi laki-laki untuk membolos sekolah. Mereka kedapatan sedang nongkrong dan merokok saat jam pelajaran berlangsung. Kasus ini menunjukkan perlunya peningkatan pengawasan dan pembinaan dari pihak sekolah dan orang tua untuk mencegah tindakan serupa di masa depan. (kompas.com, 13-03-2026)

Kepala Satpol PP Kota Bengkulu, Sahat M Situmorang, mengungkapkan bahwa para siswi tersebut awalnya mengenakan kerudung saat berangkat dari rumah, tapi mereka melepasnya dan menyimpannya di tas untuk bisa berbaur dengan teman-teman laki-laki mereka. Tindakan ini menunjukkan bahwa mereka berusaha menyembunyikan identitas mereka sebagai perempuan untuk menghindari pengawasan. (tribunjateng.com, 14-03-2026)

Dua fakta ini bukan hanya sekadar pelanggaran disiplin, tapi merupakan peringatan keras bahwa ada krisis nilai yang sedang melanda generasi muda kita. Ini menunjukkan bahwa ada kekosongan nilai-nilai yang perlu segera diisi dan diperkuat.

Selama ini, solusi yang diambil seringkali hanya fokus pada penegakan aturan dan razia. Aparat turun, pelajar ditertibkan, lalu masalah dianggap selesai. Padahal, pendekatan seperti ini hanya memberikan efek sementara, tidak benar-benar menyelesaikan akar masalahnya. 

Mengapa? Karena yang disentuh hanya permukaan, bukan akar persoalannya.

Akar persoalannya terletak pada hilangnya standar benar dan salah yang bersumber dari akidah. Pelajar tidak lagi menjadikan halal dan haram sebagai tolok ukur. Mereka hanya mempertimbangkan apakah tindakan itu melanggar aturan sekolah atau tidak, dan apakah akan ketahuan atau tidak. Jika tidak, maka tindakan itu dilakukan. Ini menunjukkan bahwa ada kekosongan spiritual dan moral yang perlu diisi.

Sistem sekuler liberal yang memisahkan agama dari kehidupan telah menghasilkan generasi yang kehilangan arah moral. Kebebasan dijunjung tinggi sebagai nilai utama, membuat anak-anak dibentuk untuk merasa bahwa mereka berhak menentukan apa pun dalam hidupnya, selama tidak merugikan orang lain. Ini membuat mereka kehilangan tolok ukur yang jelas tentang benar dan salah.

Akibatnya, muncul keberanian untuk melanggar norma. Membolos jadi hal biasa, merokok jadi gaya, bahkan menyerupai lawan jenis dianggap sebagai ekspresi diri atau strategi. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai telah terbalik, dan anak-anak kehilangan arah yang jelas.

Dalam Islam, tasyabuh (menyerupai lawan jenis) bukan perkara ringan. Rasulullah saw. bersabda, "Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki" (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga fitrah dan identitas gender, karena mengabaikan batas ini bisa memicu kerusakan yang lebih besar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda kita mungkin cerdas secara akademik, tapi lemah dalam kontrol diri dan kosong dalam nilai-nilai spiritual. Mereka kurang memiliki dorongan internal untuk menjaga kehormatan diri dan prinsip hidup yang kuat.

Di sinilah kita harus jujur: razia kedisiplinan tanpa penanaman nilai hanya solusi sementara. Mungkin menghentikan pelanggaran hari ini, tapi tidak membentuk kesadaran untuk hari esok. Butuh pendekatan holistik untuk membentuk generasi yang kuat dan berintegritas.

Islam menawarkan solusi yang lebih fundamental.

Pertama, pembinaan generasi adalah tanggung jawab kolektif, melibatkan keluarga, masyarakat, dan negara. Orang tua harus proaktif, bukan hanya mengandalkan sekolah, karena mereka adalah pendidik pertama yang membentuk akidah dan cara pandang anak.

Kedua, pendidikan dalam Islam berlandaskan akidah, artinya setiap ilmu yang diajarkan harus menguatkan keimanan dan membentuk cara berpikir yang benar. Anak tidak hanya tahu aturan, tapi memahami alasan di baliknya: bahwa semua terikat dengan perintah Allah.

Ketiga, Islam menekankan pembentukan syakhsiyah Islamiyah, yaitu kepribadian Islam yang utuh. Ini bukan hanya soal pintar atau tidak, tapi bagaimana seseorang berpikir dan bersikap. Pelajar dibentuk menjadi pribadi yang memiliki rasa malu, menjaga kehormatan, dan bertanggung jawab atas dirinya.

Keempat, Islam memiliki aturan pergaulan yang jelas antara laki-laki dan perempuan, menjaga identitas dan kemuliaan masing-masing. Larangan menyerupai lawan jenis adalah bagian dari penjagaan fitrah, bukan sekadar aturan formal.

Kelima, negara dalam sistem Islam berperan aktif menjaga moral generasi. Bukan hanya membuat aturan, tapi juga memastikan sistem, kurikulum, media, dan lingkungan sosial mendukung terbentuknya generasi beriman.

Masyarakat Islam hidup dalam budaya amar makruf nahi munkar, ada kepedulian dan tanggung jawab kolektif untuk menjaga kebaikan. Ini menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan generasi berakhlak mulia.

Persoalan ini bukan sekadar tentang pelajar yang membolos atau melanggar aturan, tapi tentang arah pembinaan generasi kita. Ini butuh refleksi dan perubahan pendekatan yang lebih holistik. Jika kita terus mengandalkan razia tanpa memperbaiki akar nilai, kita hanya akan mengulang cerita yang sama, dengan wajah pelaku yang berbeda. Butuh perubahan mendasar dalam pendekatan pembinaan generasi.

Kita tidak butuh generasi yang patuh karena diawasi. Kita butuh generasi yang taat karena iman. Generasi yang ketika sendiri tetap menjaga dirinya, merasa diawasi Allah, dan menjadikan halal haram sebagai kompas hidup. Itulah generasi yang kuat dan berintegritas.

Generasi seperti itu hanya lahir dari sistem yang menanamkan akidah sebagai fondasi, bukan kebebasan tanpa batas. Ketaatan kepada Allah jadi panduan hidup mereka. Jika tidak, razia akan terus digelar, pelanggaran berulang, dan kita hanya sibuk menertibkan tanpa mendidik . Wallahua'lam bissawab.

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,84,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,2,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,9,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,9,Jakarta Selatan,1,KAI,171,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,198,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,185,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,566,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,102,Polresta Padang,1,Polri,80,Pontianak,1,Puisi,19,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,1,Smartphone,2,Solok,2,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,600,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,10,
ltr
item
Media Sumbar: Krisis Nilai di Balik Kedisiplinan Siswa
Krisis Nilai di Balik Kedisiplinan Siswa
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhS7_CWYWBJMCihXl1OsE_gX6nP85FL2bG-qAkRhDWAfIxD2sAiTQ_m7v7R-08n1Duwe0KP148JTDYrBIb8CVz-aJ_toGtro1sjwnV8YgTD_0y3a0j-TEXtR-A8P4Bl5S7JkTgFjHkBV2utNn2ZQlk7zjfvZbsqd3SnXd8HKiZsFpHzzP3XcxK5KCFm2Re9/s320/WhatsApp%20Image%202026-03-18%20at%2003.53.12.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhS7_CWYWBJMCihXl1OsE_gX6nP85FL2bG-qAkRhDWAfIxD2sAiTQ_m7v7R-08n1Duwe0KP148JTDYrBIb8CVz-aJ_toGtro1sjwnV8YgTD_0y3a0j-TEXtR-A8P4Bl5S7JkTgFjHkBV2utNn2ZQlk7zjfvZbsqd3SnXd8HKiZsFpHzzP3XcxK5KCFm2Re9/s72-c/WhatsApp%20Image%202026-03-18%20at%2003.53.12.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/03/krisis-nilai-di-balik-kedisiplinan-siswa.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/03/krisis-nilai-di-balik-kedisiplinan-siswa.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content