Oleh Hasna Aqila Azzahro
Aktivis Pelajar SMPIT Insantama Malang
Sekarang, jujur aja, dunia lagi ada di fase yang aneh. Bukan lagi malu kalau berbuat salah, tapi justru banyak yang bangga dengan maksiat. Sesuatu yang dulu dianggap dosa, sekarang malah dipamerin. Bahkan ada yang terang-terangan bilang kalau dosa dan neraka itu cuma cerita, nggak nyata. Ini bukan sekadar beda pendapat, tapi udah masuk ke masalah serius dalam cara orang melihat hidup.
Kalau seseorang udah nganggep dosa itu nggak ada, otomatis dia juga nggak punya batas. Mau ngelakuin apa aja jadi bebas, karena nggak ada rasa takut sama konsekuensi di akhirat. Padahal dalam Al-Qur'an, Allah udah ngingetin dengan jelas:
"Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main dan bahwa kamu. tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Mu'minun: 115)
Ayat ini ngegas banget maknanya. Hidup ini bukan buat main-main, dan semua yang kita lakuin bakal dimintai pertanggungjawaban. Jadi kalau ada yang nganggep dosa dan neraka cuma dongeng, itu bukan cuma salah, tapi juga bentuk penolakan terhadap kebenaran yang udah jelas.
Yang lebih jadi masalah, sekarang bukan cuma dilakukan, tapi juga dibanggakan. Perilaku yang jelas-jelas bertentangan dengan fitrah manusia malah dijadiin identitas, bahkan dianggap keren. Ini nunjukin kalau standar benar dan salah udah mulai kebalik. Yang seharusnya dijauhi malah didekati, yang seharusnya ditutup malah dipamerin.
Dosa itu udah salah, tapi jadi lebih parah lagi ketika dipertontonkan dan dianggap hal biasa. Karena efeknya bukan cuma ke diri sendiri, tapi juga ke orang lain yang ngelihat dan bisa ikut-ikutan. Lama-lama, yang awalnya salah jadi terasa normal.
Kalau dilihat lebih dalam, ini bukan cuma soal individu yang "nyeleneh". Ini tanda kalau cara berpikir kita lagi bermasalah. Banyak orang sekarang lebih butuh pengakuan daripada kebenaran. Selama dapat perhatian, dianggap beda, atau viral, apapun dilakukan, bahkan kalau itu melanggar aturan Allah.
Di sinilah pentingnya balik ke Islam secara kaffah. Bukan cuma ibadah doang, tapi juga cara kita mikir, cara kita nilai sesuatu, dan batasan dalam hidup. Kalau Islam dijalankan secara menyeluruh, orang bakal punya standar yang jelas, nggak gampang kebawa arus, dan tahu mana yang harus dijaga.
Sebagai remaja, kita harus lebih kritis. Nggak semua yang viral itu benar, dan nggak semua yang dianggap "bebas" itu baik. Kita harus punya prinsip, jadilah yang mewarnai bukan diwarnai. Karena kalau kita diwarnai, pelan-pelan kita juga bisa kebawa arus yang sama.
Intinya, ini bukan cuma soal satu fenomena, tapi soal arah hidup manusia hari ini. Ketika maksiat dibanggakan dan dosa dianggap nggak ada, itu tanda bahaya. Dan kalau nggak ada perubahan, bukan nggak mungkin hal kayak gini bakal makin dianggap wajar.
.jpeg)