Sumbar – Tidak banyak pemimpin daerah yang mampu menorehkan sejarah di dua panggung berbeda. Namun, Syamsu Rahim menjadi pengecualian. Ia adalah sosok yang berhasil menaklukkan dua medan kepemimpinan sekaligus: sebagai Wali Kota Kota Solok dan kemudian sebagai Bupati Kabupaten Solok.
Lahir pada 6 Maret 1956, Syamsu Rahim bukan sekadar pejabat publik. Ia adalah representasi dari perjalanan panjang seorang aparatur yang tumbuh dari bawah, memahami denyut masyarakat, hingga akhirnya menjadi arsitek pembangunan di dua wilayah yang berbeda karakter.
Dari Lorong Birokrasi ke Panggung Utama
Karier Syamsu Rahim dimulai dari jalur birokrasi, sebuah “lorong sunyi” yang justru membentuk ketajaman nalurinya sebagai pemimpin. Lulusan APDN Bukittinggi dan Universitas Gadjah Mada ini meniti karier dari posisi camat di Sawahlunto hingga menduduki jabatan strategis di pemerintahan daerah.
Pengalaman itu semakin lengkap ketika ia masuk ke dunia legislatif dan dipercaya menjadi Ketua DPRD Kota Sawahlunto selama dua periode. Di titik inilah, ia memahami bahwa kebijakan bukan sekadar keputusan, tetapi juga seni membaca kebutuhan rakyat.
Membangun Kota, Menata Kabupaten
Saat dipercaya memimpin Kota Solok (2005–2010), Syamsu Rahim membawa pendekatan pembangunan yang terukur. Ia memperkuat posisi kota sebagai jalur strategis perdagangan lintas Sumatera, menjadikannya lebih hidup dan berdaya saing.
Namun, “ujian sesungguhnya” datang ketika ia beralih memimpin Kabupaten Solok (2010–2015). Wilayah yang luas dengan tantangan agraris membutuhkan pendekatan berbeda. Bersama Desra Ediwan Anantanur, ia mengarahkan pembangunan pada sektor pertanian dan ekonomi berbasis masyarakat.
Peralihan dari kota ke kabupaten bukan sekadar pindah jabatan, melainkan perubahan paradigma kepemimpinan—dan Syamsu Rahim berhasil menjembataninya.
Politik sebagai Jalan Pengabdian
Dalam dunia politik, Syamsu Rahim dikenal sebagai figur yang matang. Kiprahnya sebagai Ketua DPW Partai NasDem Sumatera Barat menunjukkan perannya dalam membangun kekuatan politik daerah.
Meski langkahnya menuju parlemen nasional pada 2019 belum membuahkan hasil, pengaruhnya tidak surut. Ia tetap menjadi figur rujukan, terutama bagi generasi muda yang ingin memahami politik secara lebih substansial, bukan sekadar elektoral.
Warisan yang Tak Sekadar Fisik
Warisan kepemimpinan Syamsu Rahim tidak hanya terlihat dari pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari pola pikir yang ia tinggalkan. Ia membangun sistem, memperkuat fondasi ekonomi lokal, dan menanamkan semangat kemandirian di tengah masyarakat.
Di Sumatera Barat, namanya kini lebih dari sekadar mantan kepala daerah. Ia adalah simbol konsistensi, pengalaman, dan keberanian mengambil peran di berbagai medan.
Syamsu Rahim membuktikan satu hal: kepemimpinan sejati bukan tentang jabatan yang dipegang, melainkan jejak yang ditinggalkan.
