Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S.T
Aktivis Muslimah
Mengapa Kita Menyerahkan Perisai Ummat ke Tangan Musuh?
Ramadan telah menyapa, tetapi aroma surgawi dari hidangan berbuka di meja-meja kita tak mampu menutupi bau anyir darah yang menyerbak dari tanah Gaza. Di bulan yang penuh rahmat ini, saudara-saudara seiman kita tidak sedang menanti takjil, melainkan menanti ajal yang bisa datang kapan saja dari langit yang kelam.
Genosida bukan lagi sekadar kata dalam berita; ia adalah jeritan ibu yang mendekap debu anaknya. Laporan penggunaan bom termobarik dengan panas ekstrem bukti nyata betapa murahnya darah kaum Muslimin di mata penjajah, menguap menjadi debu dalam hitungan detik. Sejak 7 Oktober hingga detik ini, lebih dari 72.000 jiwa telah berpulang, dan ratusan ribu lainnya menanggung luka yang tak akan pernah sembuh oleh waktu.
"Perdamaian" di Meja Sang Penindas. Di tengah kepulan asap Gaza, dunia disuguhi sandiwara bertajuk Board of Peace (BoP). Betapa getirnya hati ini melihat negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia, duduk satu meja dan bersalaman dengan pihak yang tangannya masih basah oleh darah rakyat Palestina. Palestina sang pemilik rumah yang teraniaya, justru dibiarkan di luar pintu, tak dilibatkan, dan hanya dijadikan objek pengaturan.
Rencana pengiriman 8.000 personel tentara Muslim ke bawah bendera "Pasukan Stabilisasi" bentukan Donald Trump merupakan sebuah luka di atas luka. Bagaimana mungkin kita menitipkan keselamatan domba kepada serigala yang selama ini menyediakan taring bagi sang penjajah?
Islam adalah agama yang memuliakan kedaulatan. Mengirim tentara Muslim di bawah komando negara kafir harbi—negara yang jelas-jelas mendukung agresi—bukanlah sebuah solusi, melainkan sebuah penghinaan terhadap kehormatan militer kaum Muslimin.
Allah SWT telah mengingatkan kita dengan untaian ayat yang menggetarkan: "Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim yang bisa mengakibatkan kalian disentuh oleh api neraka..." (TQS Hud [11]: 113)
Ikut serta dalam komando militer yang dipimpin oleh penyokong penjajah merupakan bentuk ta’awun ‘ala al-itsmi (tolong-menolong dalam dosa). Esensi dari pasukan ini bukanlah melindungi rakyat Gaza, melainkan melucuti perisai terakhir para pejuang agar penjajahan bisa berlangsung tanpa perlawanan.
Kedaulatan milik Allah, militer dalam Islam bukan sekadar alat politik praktis, ia adalah sarana izzah (kemuliaan). Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa seorang Muslim hanya boleh berperang di bawah bendera Islam dan kepemimpinan Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda dengan penuh perumpamaan: "Janganlah kalian meminta penerangan dari api kaum musyrik." (HR Ahmad)
Maknanya jelas, jangan jadikan visi dan kepemimpinan kaum musyrik sebagai kompas dalam perjuangan. Mengirim tentara ke bawah kendali kekuatan asing berarti mencabut kedaulatan hukum Allah dan menggantinya dengan kepentingan geopolitik yang kotor.
Saatnya kembali ke pelukan umat. Wahai para penguasa dan tentara negeri Muslim! Darah rakyat Gaza yaitu darah kalian. Luka mereka adalah luka kalian. Jangan biarkan seragam kebanggaan kalian tunduk pada perintah yang justru akan mengokohkan kaki-kaki penjajah di tanah suci para Nabi.
Palestina tidak butuh pengawas perdamaian yang dipandu oleh Washington; ia butuh pembelaan nyata yang dipandu oleh keimanan. Hanya di bawah komando yang ikhlas karena Allah, tanah Gaza akan benar-benar merdeka.
Haram hukumnya menyerahkan pedang kita ke tangan musuh untuk menusuk saudara sendiri. Kembalilah pada hukum Allah, karena di sanalah letak kemuliaan yang sesungguhnya.
"Sungguh Allah melarang kalian menjadikan sebagai kawan kalian orang-orang yang memerangi kalian karena agama dan mengusir kalian dari negeri kalian..." (TQS Al-Mumtahanah [60]: 9)
Wallahualam bissawab
