![]() |
| Oleh : Milda, S.Pd (Aktivis Muslimah) |
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) kini terus memperkuat komitmennya, dalam memangkas kesenjangan pendapatan gender. Fokus utama saat ini, pada penguatan ekonomi perempuan, khususnya bagi perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.
Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kukar, Hero Suprayetno, menyatakan bahwa peningkatan kemandirian ekonomi perempuan bukan sekedar hanya masalah finansial. Namun lebih kepada menekankan berbagai persoalan sosial di masyarakat. "Selama ini kesenjangan pendapatan antara laki-laki dan perempuan masih cukup jauh. Karena itu, pemerintah daerah mendorong perempuan agar memiliki kapasitas ekonomi yang kuat, baik melalui usaha mandiri, kelompok, maupun sektor non formal,” ungkap Hero. https://radarkukar.com/tekan-kesenjangan-pemkab-kukar-fokus-berdayakan-46-ribu-perempuan-kepala-keluarga/
Jika diamati selama ini pemberdayaan perempuan terbaca dilandaskan pada ide feminisme dengan alasan penguatan ekonomi bagi perempuan khususnya mengenai pendapatan ekonomi di daerah Kukar. Berkaca pada kejadian- kejadian sebelumnya, bahwa perempuan berdaya dalam sistem kapitalisme justru menimbulkan polemik seperti renggangnya sistem ketahanan keluarga disebabkan kaum perempuan lepas tanggung jawab sebagai ummu warobatul bait. Hal ini karena ide feminisme menjadikan perempuan mampu setara dengan laki-laki dalam pendapatan ekonomi. Ide feminisme terkesan mampu memberdayakan. Namun di balik itu perempuan diarahkan dalam masalah persaingan ekonomi. Ini adalah sebuah kebebasan kepada perempuan sehingga mampu bersaing dalam dunia kerja yang notabene menghasilkan cuan.
Hal ini tentu menjadi alarm bahwa ini adalah jebakan bagi perempuan dalam sistem kapitalisme sekuler yang menjadikan perempuan sebagai alat produksi sehingga peranya sebagai ibu dan istri tidak maksimal. Sehingga perlu di pahami oleh para perempuan muslimah agar mampu tidak terjebak oleh ide feminisme yang seakan baik tetapi dibalik itu semua justru menjauhkan perannya sebagai ummun wa rabbatul bait yang semakin mengecilkan nilai-nilai Islam. Hal ini jika terus terjadi maka keberkahan dan kebaikan jauh dari keluarga muslim baik suami istri maupun anak-anak.
Lihatlah bagaimana perempuan saat ini bekerja, tidak sedikit dari mereka menghabiskan waktu untuk bekerja dari pagi hingga petang demi sebuah kesetaraan. Lantas, mereka dapat apa? Terkurasnya waktu, pikiran, dan tenaga. Semua itu hanya demi mencapai kesetaraan pendapatan. Sementara suami yang seharusnya disambut dengan cinta dan perhatian oleh sang istri saat pulang kerja, namun justru komunikasi mereka kurang terjalin. Jika pun terjadi komunikasi seolah suatu hal yang langka, sekedar menanyakan perihal anak. Bahwa tidak jarang menimbulkan pertengkaran yang ujungnya berakhir kekerasan dalam rumah tangga.
Dalam Islam perempuan harus berdaya. Tetapi bukan berdaya ala feminisme yang mendorong perempuan untuk melakukan kebebasan tanpa batas. Bagaimana seharusnya perempuan berdaya dalam menguatkan tatanan keluarga?
Islam lahir atas keyakinan bahwa Allah SWT adalah Pencipta dan mengatur segala aspek kehidupan. Sehingga aturan Islam khususnya terkait pembagian tugas laki-laki dan perempuan telah diatur termasuk bagaimana perempuan berdaya dalam masalah ekonomi. Dalam Islam perempuan berdaya adalah ketika kesadaran dan kewajiban sebagai muslimah mampu mendatangkan kebaikan yang telah di syariatkan, baik dalam keluarga maupun di tengah-tengah masyarakat dengan kontribusi yang di berikan untuk kemashalatan umat. Inilah dimaksud perempuan berdaya ala sistem Islam.
Maka yang harus dipahami perempuan adalah mengubah pola pikir diri kita dengan tsaqofah Islam. Sehingga hanya melakukan sesuatu yang benar tidak terlepas dari cara pandang Islam dalam menentukan arah tujuan perempuan. Alhasil perempuan berdaya berdasarkan akidah Islam. Dengan pembinaan maka akan membentuk pemahaman Islam di masyarakat.
Pemberdayaan perempuan bisa optimal dalam menjalankan perannya dalam segala hal termasuk perjuangan menyebarkan dakwah di tengah-tengah umat. Sehingga perempuan tidak akan berpikir terkait kesetaraan gender, apalagi sebagai objek perekonomian keluarga yang notabene tuas utama laki-laki.
Wallahu Alam Bishawab.
