Oleh Rahma
Praktisi Pendidikan
Jagat maya heboh!. Headline berita seorang guru yang menegur siswa nya karena ketahuan merokok di lingkungan sekolah merajalela di dunia maya. Tegurannya tegas, tapi masih dalam batas wajar. Namun siapa sangka, orang tua si siswa justru nggak terima. Mereka melapor ke pihak sekolah, bahkan menggiring opini bahwa sang guru bersikap kasar.
Dalam hitungan hari, demo kecil pun terjadi yang dilakukan oleh para siswa. Sialnya, bukan membela guru, teman-teman siswa yang ditegur itu malah menuntut kepala sekolah mundur. Guru itu pun akhirnya dipecat.
Kasus ini langsung memancing perhatian netizen. Beritanya langsung viral. Pro dan kontra memanas di kolom komentar. Yang pro ngerasa guru kelewat batas. Yang kontra bilang anak dan orang tuanya lebay.
Bisa ditebak, yang kontra jauh lebih banyak. Gimana nggak, udah seharusnya guru mendidik muridnya, menegur jika murid melanggar aturan adalah bagian dari proses itu. Lha ini, dunia serasa jungkir balik. Yang salah bisa bebas, yang benar malah disingkirkan. Gokil!
Namun yang menarik, setelah kasus itu viral, keadilan perlahan mulai muncul. Bukan lewat pengadilan, tapi lewat sanksi sosial. Banyak perusahaan kemudian mem-blacklist lulusan sekolah tersebut satu angkatan.
Mereka menolak menerima siswa yang dianggap tak punya adab. Kok bisa, ya, kebenaran baru terlihat setelah dunia maya turun tangan? Kenapa harus menunggu trending dulu baru orang peduli? Seolah kalau nggak viral, kebenaran akan tenggelam ditelan bumi. Ini bukan cuma soal teknologi, tapi soal cara kita mencari keadilan dinanti.
Zaman sekarang, "keadilan" sering kalah cepat dari algoritma. Yang viral, itulah yang dianggap benar. Yang punya simpati netizen, dialah korban. Padahal belum tentu, bisa jadi dia adalah pelaku yang play victim. Media sosial memang bisa jadi alat untuk memperjuangkan suara, tapi juga bisa menipu para penduduk dunia maya.
Kadang, yang bersuara paling keras bukan yang paling benar, tapi yang paling pintar membungkus cerita atau punya banyak uang untuk membungkam suara.
Kalau dipikir, miris banget. Guru yang seharusnya dihormati malah dijadikan bahan hujatan. Murid yang salah malah didukung demi "solidaritas teman". Masih adakah adab dalam dunia Pendidikan kita?
Keadilan sejati dalam Islam nggak menunggu viral. Islam menegakkan keadilan bukan karena tekanan publik, tapi karena perintah Allah. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, orang tua, atau kaum kerabat-mu." (QS. An-Nisa: 135)
Artinya, dalam Islam, keadilan itu mutlak. Siapa pun yang salah - entah dia murid, guru, orang tua, atau bahkan pejabat-semuanya sama di hadapan hukum Allah. Nggak ada "privilege", nggak ada yang kebal.
Keadilan Islam nggak bisa dibeli dengan trending tagar atau viral video. la ditegakkan dengan hukum Allah yang jelas, adil, dan konsisten. Nabi Muhammad pernah menolak memberikan keringanan hukuman kepada wanita bangsawan Quraisy yang mencuri. Beliau bersabda,
"Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Itulah keadilan sejati-yang nggak pandang bulu, nggak tunduk pada opini publik, dan nggak bergantung pada popularitas. Dan yang paling penting, keadilan sejati hanya bisa lahir dari sistem yang menegakkan hukum Allah secara menyeluruh bukan sistem yang menunggu viral untuk peduli. No viral no justice, gak ada dalam peradaban Islam.
