Aktivisme Digital Gen Z, Harus Dikembalikan pada Paradigma Islam

 


 


Oleh Widya Amidyas Senja

Pendidik Generasi

 

“Generasi yang berpegang pada cahaya Allah tidak akan tersesat, sekalipun dunia diterangi gemerlap digital.”— A. Rahman Al-Hikmi

 

Era digital yang melanda dunia bukan lagi sekadar fenomena sementara, melainkan realitas struktural yang tak terelakkan. Di Indonesia sendiri jumlah pengguna internet terus meningkat signifikan; berdasarkan data yang lansir pada laman event.cloudcomputing.id, pada tahun 2025 tercatat lebih dari 229 juta orang terhubung ke dunia maya dengan penetrasi mencapai lebih dari 80% dari total penduduk dan generasi muda, khususnya Gen Z, merupakan salah satu kelompok terbesar pengguna digital ini.

Era digital membawa banyak kemudahan dalam kehidupan: akses pendidikan yang lebih cepat, informasi yang lebih luas, jaringan sosial yang tak terbatas, hingga ruang-ruang kreativitas anak muda untuk berekspresi. Di satu sisi, Gen Z sering dipandang sebagai generasi yang lemah karena keterikatan mereka pada teknologi dan media sosial, tetapi di sisi lain potensi mereka sangat besarterutama dalam bergerak secara aktif melalui platform digital untuk menyuarakan isu penting dalam masyarakat, bahkan sebagai bentuk aktivisme sosial.

Bukti empiris menunjukan bahwa banyak Gen Z menggunakan media sosial untuk menyuarakan isu-isu penting dan ekspresi pendapat dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya. Seperti yang kerap dilakukan seorang mahasiswa ilmu komunikasi, Bima Yusril Pratama (22), menurutnya melakukan protes di dunia media sosial dianggap efektif. Ia kerap mengomentari kebijakan publik lewat akun personalnya, Saya bukan orang yang bisa bergerak di lapangan, menggaet massa untuk turun aksi. Makanya saya memutuskan untuk berisik di medsos. Yaa, biar beranda penuh dengan informasi ini,” ujarnya saat diwawancara, Rabu (26/2/2025)

Namun seperti dua sisi mata uang, ruang digital ini jauh dari netral. Ia lebih cenderung dipenuhi oleh nilai-nilai sekuler kapitalistik yang mengedepankan konsumerisme dan pemuas kebutuhan instan, bukan orientasi nilai-nilai spiritual maupun moral yang berakar pada prinsip agama yang kokoh. Akibatnya, Gen Z menghadapi paradoks: mereka inheren terhubung dan aktif dalam ruang digital, tetapi juga terpapar tekanan sosial, standar kecantikan yang tidak realistis, dan beragam pengaruh negatif lain yang berpotensi merusak keimanan, mental, dan citra diri.

Menurut laporan media, kebebasan berekspresi di media sosial sering berubah menjadi tekanan sosial yang luar biasa bagi Gen Z, dimana mereka membandingkan diri dengan standar ideal yang diciptakan oleh algoritma konten digital.

Ruang digital bukan ruang kosong tanpa nilai. Justru mayoritas platform digital dibangun atas nilai-nilai sekuler kapitalistik yang senantiasa mendorong konsumsi, popularitas, dan pembuatan konten sensasional demi like dan follower. Dominasi nilai semacam ini menyuburkan budaya pragmatisme, aktivisme yang tidak berpijak pada prinsip tetapi sekadar mencari validasi sosial melalui tren sesaat.

Karakteristik Gen Z sebagai digital natives, mereka yang lahir dan besar di lingkungan digital yang memberi keuntungan sekaligus tantangan. Keuntungan besar adalah tersedianya akses pendidikan, wawasan global, dan peluang kreativitas yang luas. Ada bentuk-bentuk activism glokal, yaitu aktivisme yang bersifat lokal sekaligus global, yang memungkinkan mereka mengadvokasi isu-isu sosial di ranah digital dengan cepat dan luas.

Namun sisi negatifnya juga nyata, diantaranya tekanan psikologis, kecemasan, perundungan daring (cyberbullying), bahkan fragmen identitas yang dibentuk oleh algoritma konsumsi konten digital. Hal ini mencerminkan bahwa ruang digital tidak netral, dan sering kali justru memperkuat nilai sekuler kapitalistik di atas nilai spiritual atau moral.

Menghadapi realitas ini, solusi yang tepat bukan sekadar filter konten atau pembatasan akses semata, tetapi perubahan paradigma berpikir dari sekuler kapitalistik menuju paradigma Islam yang kaffah, yakni pandangan hidup yang terpadu antara ilmu, iman, dan amal.

1. Mengubah Paradigma Berpikir

Paradigma Islam mengajarkan bahwa kehidupan ini bukan sekadar pencarian kesenangan dunia, tetapi untuk mencapai ridha Allah SWT. Allah berfirman:

 Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah…” (QS. al-Baqarah: 208)

Perintah ini mengingatkan umat Islam untuk memasuki Islam secara total berpikir, bersikap, dan beramal sesuai nilai Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam ruang digital.

Para orang tua dan pendidik harus membekali Gen Z dengan tafaqquh fiddin (pemahaman tentang agama yang mendalam), agar mereka mampu menyaring informasi digital secara kritis dan tidak terbuai oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan Tauhid dan moral Islam.

2. Aktivisme Islam yang Sistemis dan Ideologis

Pergerakan Gen Z dalam ranah sosial dan digital harus diarahkan ke arah aktivisme yang sistemis dan ideologis berdasarkan nilai Islam. Islam mendorong umatnya untuk menyuarakan hak dan kebenaran, seperti nabi-nabi terdahulu yang memperjuangkan keadilan, tetapi bukan dengan cara yang pragmatis mencari popularitas, melainkan karena kecintaan kepada Allah dan kemaslahatan umat. Rasulullah saw. bersabda:

Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun…” (HR. Muslim)

Ini menjadi pijakan bahwa menyebarkan kebenaran dan dakwah di era digital memiliki nilai ibadah, selama niatnya lurus dan sarana serta isinya bermanfaat sesuai syariat.

3. Sinergi Keluarga, Masyarakat, dan Negara

Penyelamatan generasi tidak bisa dilakukan secara parsial oleh individu saja. Diperlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara:

a.         Keluarga: Pendidikan nilai sejak dini, membangun diskursus agama yang sehat dalam lingkungan rumah.

b.         Masyarakat: Menciptakan komunitas dakwah yang memanfaatkan teknologi untuk kebaikan (misalnya konten dakwah kreatif di platform digital).

c.          Negara: Regulasi dan kebijakan yang mendorong literasi digital dan etika digital berbasis nilai moral universal.

Gen Z memiliki energi dan kreativitas yang luar biasa, yang perlu diarahkan oleh paradigma Islam yang kaffah. Ketika generasi muda berhasil merebut kembali makna digital sebagai sarana dakwah, ilmu, dan kebaikan yang bersinergi antara iman dan amal, maka mereka tidak hanya menjadi pengguna digital yang pasif, tetapi aktual sebagai agen perubahan bagi umat dan bangsa.

Wallahualam bissawwab.

 

 

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,85,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,12,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,10,Jakarta Selatan,1,KAI,181,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,198,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,188,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,600,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,102,Polresta Padang,1,Polri,81,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,2,Solok,2,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,616,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,11,
ltr
item
Media Sumbar: Aktivisme Digital Gen Z, Harus Dikembalikan pada Paradigma Islam
Aktivisme Digital Gen Z, Harus Dikembalikan pada Paradigma Islam
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKLNcUqJ0hqagIRoBy-ftE2Cn4b5O9-vSfm5c4XpOnxU9nOcVNSAr8Gxh22Xs8gSkMlhj2IG5aV99eKeAZY4vxvMk-SDwiCWGmMlQUJ7UVcCi7Md5i7ZhBRRLOO2QD5fuQOnS-rjCs7ERKM5fMzJ2kUB1Zlrmkhib4da2N3EN7e4wstzbpdkhw_PZMd3S2/w189-h219/TEH%20WIDYA.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKLNcUqJ0hqagIRoBy-ftE2Cn4b5O9-vSfm5c4XpOnxU9nOcVNSAr8Gxh22Xs8gSkMlhj2IG5aV99eKeAZY4vxvMk-SDwiCWGmMlQUJ7UVcCi7Md5i7ZhBRRLOO2QD5fuQOnS-rjCs7ERKM5fMzJ2kUB1Zlrmkhib4da2N3EN7e4wstzbpdkhw_PZMd3S2/s72-w189-c-h219/TEH%20WIDYA.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2025/12/aktivisme-digital-gen-z-harus.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2025/12/aktivisme-digital-gen-z-harus.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content