![]() |
| Oleh : Dewi Lesmana | aktivis dakwah islam |
Serangan Yahudi Israel kepada kaum muslim Gaza kian hari kian brutal dan menggila membuat muslim Palestina kian nestapa. Bahkan serangan tentara Israel kali ini menyasar para jurnalis yang bertugas untuk meliput berita di Gaza. Pada Minggu 10 Agustus lalu diberitakan bahwa tentara Israel telah membunuh 5 jurnalis Al Jazeera di tenda mereka di jalur Gaza, tentu saja ini memantik kemarahan banyak PBB, UNI Eropa, dan kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) mengutuk dan mengecam aksi gila serangan tentara Israel tersebut. Bahkan warga Israel di Tel Aviv sendiri sampai turun ke jalan menyuarakan agar pemerintah Israel menghentikan perang di Gaza dan membebaskan sandera. Hanya saja meski dunia mengecam bahkan mendapat protes dari warga Israel sendiri pemerintah Israel tidak kunjung menghentikan serangan terhadap muslim Palestina.
Mereka semakin brutal menyerang gaza.
Disamping itu pembunuhan para jurnalis sejatinya adalah upaya Israel dalam membungkam media agar berhenti memberitakan kondisi gaza dan penderitaan kaum muslim di Palestina, sehingga Israel bisa terus menyerang gaza tanpa bisa dilihat oleh dunia. Sungguh itu tindakan yang licik juga keji.
Di sisi lain kondisi di Gaza kian mencekam dan kaum muslim di sana hidup dalam penderitaan yang berkepanjangan. Namun para penguasa Muslim di dunia tetap bungkam, sampai saat ini belum ada yang berani mengirimkan tentara militernya untuk membantu mujahidin di Palestina memerangi penjajah zionis Yahudi. Mereka hanya mampu mengutuk, mengecam dan mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan saja. Salah satu Ulama di Gersik Jawa Timur, KH Arif al-Amin mengatakan, bawa ikatan kebangsaan (nasionalisme) lah yang menjadi penghalang bagi penguasa negeri muslim untuk mengirimkan bantuan tentara militernya guna memerangi serangan Yahudi Laknatullah.
Diamnya para penguasa muslim melihat penderitaan muslim Gaza merupakan pengkhianatan yang kejam dimana mereka yang sejatinya memiliki kekuatan militer yang sangat besar tidak menggunakan kekuatan dan kekuasaan tersebut untuk membela sesama kaum muslim yang menderita akibat jajahan israel itu, dan di tengah penduduk Palestina yang terus mendapat serangan yang bertubi-tubi dari tentara israel ditambah mereka juga diliputi kelaparan bahkan saking tidak ada makanan yang bisa dimakan mereka sampai makan rumput dan pasir sebagai pengganti gandum, sedangkan di sisi lain beredar sebuah video suatu negara muslim yang memperlihatkan mereka sedang bersuka cita, berjoget-joget dan di depan mereka tersaji makanan yang melimpah satu meja saja itu terdapat nasi dan lauk pauknya dalam porsi yang sangat besar, sungguh miris di tengah penderitaan warga Gaza yang menderita kelaparan penguasa muslim saat masih bisa tidur nyenyak dan makan enak perumpamaan kaum muslim seperti satu tubuh itu tidak berlaku lagi di sistem sekarang. Buktinya ketika sebagian muslim yang menderita harusnya muslim lainnya ikut merasakan penderitaan itu, begitu pula dengan kondisi Palestina yang saat ini dijajah, tanah mereka dirampas, menderita kelaparan massal dan banyak jiwa yang terbunuh tanpa hak oleh zionis Yahudi bukankah kaum muslim dan penguasa muslim dunia wajib marah dan ikut merasakan penderitaan muslim disana, tapi tidak itu tidak dirasakan oleh penguasa negeri-negeri muslim saat ini. Lebih dari satu juta jiwa perempuan dan anak-anak Gaza saat ini menderita kelaparan dan penyiksaan juga pelecehan, namun penguasa negeri-negeri muslim tetap diam.
Lantas solusi permasalahan Palestina cukup hanya dengan mengutuk, mengecam saja dan memberikan bantuan-bantuan makanan dan obat-obatan? Tentu tidak, tidak cukup yang dibutuhkan Palestina bukan cuman bantuan kemanusian saja melainkan bantuan kekuatan militer untuk melawan penjajah zionis yahudi. Maka sudah seharusnya negeri-negeri muslim bersatu menjadi kekuatan yang besar mengirimkan para mujahidin dan membebaskan Palestina dari jajahan zionis yahudi. Karena hanya dengan Jihad dan Khilafah lah Palestina bisa terbebas dari segala bentuk penderitaan dan serangan zionis.
