Oleh: Sahari Ramadhani
Roje menelan mentah-mentah petuah itu tanpa tahu bahwa ia bahkan tak akan sampai pada tahap menikah.
“Menikahlah. Jika istrimu baik, kau akan bahagia. Namun, jika istrimu buruk, kau akan jadi filsuf.”
Ia tak ingin mengutuk kalimat filsuf itu. Menyesal juga tidak. Namun, memang karena kalimat inilah ia akhirnya berani menaruh hati dan asa pada seorang gadis keraton. Dan kini, kiranya ia telah menjadi seorang filsuf, filsuf yang belum beristri.
Roje menaruh penanya, menutup buku yang ia tulis, dan merebahkan badan di atas kasur busa tipis. Ia senyum sendiri, menatap langit-langit kamar petak yang ia huni selama ini. Langit-langit itu tampak semakin buram di matanya, seperti cintanya.
Langit di luar hitam legam. Sebentar lagi mungkin akan turun hujan. Suasana yang pas bagi Roje untuk menoreh buku syairnya.
“Rojeee! Je! Buka pintu! Sudah ada belum?” Gedoran pintu diiringi teriakan ibu pemilik kontrakan memecahkan lamunan Roje.
“Belum, Buk. Besok ya,” jawab Roje tanpa bangkit dari kasurnya. Untuk urusan bayar kontrakan, urat malu Roje sepertinya sudah putus.
Ibu itu lanjut teriak-teriak di luar, meminta uang kontrakan yang sudah sekian bulan tidak dibayar, dan menyampaikan pada tetangga lain yang juga mengontrak kamar petak lainnya. Roje mengabaikan suara itu. Ia punya suara sendiri yang lebih penting baginya. Suara itu memenuhi telinganya—suara lembut gadis keraton bernama Ratu yang sudah bertahun-tahun akrab mesra bersamanya, suara yang tempo hari dengan lirih mengatakan kalau mereka tak mungkin lagi bersama.
“Keluarga besarku tak mengizinkan hubungan kita. Aku telah dijodohkan dengan sepupu jauhku di Solo.” Ia menunduk, kemudian berlalu.
Roje hanya diam. Ia tahu pacarnya itu menangis, namun sepertinya takdir itu benar-benar tak bisa ditentang lagi. Telah sekian kali Roje memperjuangkan, namun selalu gagal. Terakhir Roje menemui kakak Ratu, ia terang-terangan menyebutkan bahwa keluarga besarnya tidak merestui hubungan Roje dengan Ratu karena masa depan Roje yang tidak jelas.
“Bagaimana kau menghidupi keluarga nanti hanya dengan syair-syair itu?”
Pertanyaan yang sangat mencabik-cabik hati Roje. Baginya, syair adalah hidupnya. Ia yakin syair-syairnya akan menemukan tempatnya. Waktunya saja yang belum tiba.
“Roje, besok beneran ya!” Suara ibu kontrakan itu terdengar lagi sambil menggedor pintu kamar Roje, lalu langkahnya terdengar menjauh.
Roje menjangkau buku lawas Chairil Anwar. Ia membuka halaman yang berjudul “Tak Sepadan”.
Dulu, hampir setiap kali mereka bertengkar kecil atau membicarakan masa depan, puisi itu selalu ia bacakan di hadapan Ratu. Ada satu bagian tentang seseorang yang mengembara sendiri, tentang api yang sebaiknya dipadamkan sebelum membakar habis keduanya. Setiap sampai pada larik tentang “kau kawin, beranak dan berbahagia”, suara Roje biasanya menguat, sementara mata Ratu mulai basah.
Ratu selalu menangis, dan Roje selalu berpura-pura tidak melihatnya.
Kini, di kamar petak yang sunyi, ia membaca puisi itu sendirian. Ia tak lagi melafalkannya keras-keras. Kata-katanya telah ia hafal di luar kepala—tentang dikutuk, tentang merangkaki dinding buta, tentang tak satu pun pintu terbuka.
Ia berhenti.
Tiba-tiba saja ia merasa bukan lagi sedang membaca Chairil. Ia sedang membaca dirinya sendiri.
Biasanya hanya Ratu yang menangis. Kini, tanpa saksi, air mata Roje jatuh satu-satu ke halaman buku yang mulai menguning.
“Tak bisakah semuanya berhenti di sini saja, Tuhan?” bisiknya lirih.
Ting!
Ada notifikasi email di komputer Roje. Mata Roje membesar, seakan tak percaya. Naskah buku kumpulan puisinya diterima oleh penerbit besar. Ia tersenyum, tapi hambar. Kabar baik ini tidak akan mengubah apa pun tentang Ratu.
“Dan aku, aku tidak akan terpanggang tinggal rangka!” gumamnya.
“Syair-syair ini adalah hidupku. Mereka tak tahu itu,” tambahnya.
Di luar, hujan akhirnya turun. Dan kamar petak itu tetap sempit seperti sebelumnya. Ia terdiam sesaat.
Andai kabar ini datang setahun yang lalu.
