![]() |
Oleh: Nurhidayah Humayrah (Pegiat Literasi) |
Israel membantai lima orang Jurnalis Al Jazeera pada Minggu (10/08) di tempat pengungsian mereka di jalur Gaza. (CNN Indonesiadotcom, 12/08/2025).
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres melaknat pembantaian enam jurnalis Palestina dalam perlawanan udara Israel di Gaza city pada Minggu (10/08), kata Stephane Dujarric, juru bicara (jubir) Guterres. (ANTARAdotcom, 12/08/2025).
Satu juta perempuan dan anak perempuan mengalami perut keroncongan yang signifikan, kekejaman dan penindasan di Gaza, demikian di infokan Badan Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pengungsi Palestina di kawasan Timur Tengah. (ANTARAdotcom, 17/08/2025).
Gaza makin tercekik
Berita meninggalnya jurnalis Al Jazeera di Gaza, membuat hati kaum Muslim terpukul termasuk mereka yang mencintai Palestina. Karena jurnalis tersebut adalah salah satu jurnalis yang sering memberikan terkait keadaan Palestina. Namun, walaupun jurnalis Al jazeera yang berusia 28 tahun telah wafat karena di bom oleh Israel bersama rekannya, tentu hal itu tidak boleh menyurutkan kepedulian kita terhadap Palestina, sehingga tetap harus terus membaca berita yang masih ada terkait Palestina, selain itu harus terus menyuarakan kebiadaban Israel atas genosidanya.
PBB dan dewan keamanan mengutarakan pelanggaran berat terhadap hukum, harus di tindak lanjuti, tidak boleh di biarkan begitu saja.
Namun, kebijakan yang di sengaja dengan membunuh para jurnalis untuk membungkam suara mereka, merupakan runtuhnya hukum dalam internasional.
Ini menunjukkan perlawanan jurnalis sangat kuat demi Gaza, rela mengorbankan nyawa, karena seorang anak yang meminta makanan kepadanya, membuat hati mereka bertekuk lutut, sebenarnya ini merupakan kekalahan dari Israel karena kekuatan para warga Gaza.
Ketakwaan dan tawakal yang mereka miliki terhadap Allah menjadikan mereka kuat, sehingga keimanan mereka berada di level tinggi. Oleh karena itu, mengorbankan nyawa adalah hal yang mudah mereka lakukan dan tetap berada di tempat pengungsian demi mempertahankan negeri tercinta mereka dan Al-Aqsa.
Dalam kondisi saat kita bisa melihat betapa besar pengorbanan mereka. Walaupun begitu mereka dipaksa untuk lapar sehingga mereka sangat membutuhkan makan dan minum, dengan perut yang keroncongan, anak-anak mereka membutuhkan susu, seorang ibu membutuhkan nutrisi untuk menyusui anaknya dan mereka harus bertahan hidup. Tapi pemimpin Muslim lainnya seolah diam tak berkutik dengan kondisi mereka.
Mereka hanya mengecap negara Israel atas tindakannya, sayangnya hal itu tidak ada efeknya untuk menolong kaum Muslim di Palestina.
Sungguh miris perlakuan Israel yang tidak berperikemanusiaan, merenggut nyawa yang tidak berdosa, demi mengambil tanah Al-aqsha.
Sebenarnya peperangan tidak akan berhenti antara Israel dan Gaza, selama penguasa dunia masih menggunakan sistem buatan manusia.
Bebaskan dengan mahkota klimaks
Haram hukumnya menumpahkan darah yang tidak bersalah, Allah SWT berfirman:
"Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya".(QS. An-nisa:93) .
Membunuh seorang mukmin adalah perbuatan dosa.
Namun, orang Israel adalah orang keras permusuhannya kepada Gaza, ini adalah perang agama, mereka tidak akan Ridha sebelum kita memasuki agamanya.
dari sini kita bisa lihat, bahwa lemahnya dunia internasional dan kaum Muslim di hadapan Israel, mereka tidak berdiri di kaki sendiri untuk membela Gaza, mereka seolah bungkam.
Sebagai seorang muslim kita ibarat satu tubuh, Nabi SAW bersabda:
"Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintaimu saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari dan Muslim).
Beberapa ulama sepakat untuk menolong saudara-saudara kita yang rapuh dan terhimpit di Gaza. Namun, pemerintah hanya tinggal diam.
Pemerintah hanya mengirimkan bantuan ke Gaza pada hari kemerdekaan, bukan mengirimkan pasukan tentara untuk mengusir penjajah.
Itu hanya solusi sementara tidak membebaskan dengan mahkota klimaks, yang dibutuhkan adalah jihad dan Khilafah. Hanya itu sekarang yang bisa membebaskan Gaza dari cengkeraman Israel laknatullah alaih.
Kemudian mendakwakan kepada umat bahwa yang dibutuhkan Gaza adalah fisik di lawan fisik, perang di lawan perang, bukan bantuan makanan, minuman dan obat-obatan melainkan jihad Fisabilillah
Wallahualam bissawab