HAN 2026: Menguji Komitmen Negara Melindungi Generasi

 


Oleh Amelia Ayu permatasari S S.Psi

Aktivis Dakwah

 

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2026 kembali diselenggarakan dengan penuh kehangatan seremonial. Mengusung tema besar "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", pemerintah meluncurkan Gerakan Nasional #RuangAmanNyamanAnak (Gernas RANA) sebagai wujud kolaborasi lintas sektor. Slogan-slogan peneduh digelorakan, panggung-panggung perayaan didirikan, dan komitmen manis kembali diucapkan di hadapan publik. Namun, di balik riuk tepuk tangan panggung peringatan, realitas kelam di lapangan justru menyuarakan jeritan yang bertolak belakang: anak Indonesia hari ini sesungguhnya belum aman.

Data dan fakta riil menunjukkan bahwa ancaman terhadap keselamatan anak bukannya menyusut, melainkan kian memprihatinkan. Angka kekerasan fisik, psikis, hingga kejahatan seksual terhadap anak tetap berada pada level yang mengkhawatirkan. Tragisnya, aksi kejam ini tidak lagi terjadi di lorong-lorong sepi yang jauh dari jangkauan, melainkan justru merebak di benteng pertahanan paling vital: rumah dan sekolah. Tempat yang seharusnya menjadi suaka paling hangat dan aman kini berubah menjadi arena yang menakutkan bagi tumbuh kembang mereka.

Lebih mengerikan lagi, dinamika kejahatan kini telah bergeser. Anak-anak tidak hanya diposisikan sebagai korban yang malang, tetapi mulai terseret menjadi pelaku kekerasan yang sadis. Kasus-kasus ekstrem, seperti keterlibatan siswa dalam aksi pengeboman di lingkungan sekolah, menjadi alarm keras bahwa ada benteng kepribadian dan moralitas generasi yang telah hancur lebur.

Akar Sistemis Kekerasan

Mengapa krisis kerentanan anak ini terus berulang tanpa solusi tuntas? Jika ditelisik secara mendalam, akar masalahnya berpulang pada tata kehidupan sekuler-liberal yang hari ini mendominasi masyarakat. Sekularisme—yakni pemisahan agama dari kehidupan publik—telah menanggalkan nilai-nilai moral keagamaan dalam interaksi sosial. Akibatnya, lahir pola perilaku liberal yang mengagungkan kebebasan tanpa batas. Kebebasan inilah yang memicu merebaknya egoisme, perilaku menyimpang, hingga kekerasan di mana-mana, di mana anak-anak selalu menjadi pihak yang paling rapuh dan dirugikan.

Ketimpangan ini kian diperparah oleh penetrasi ruang digital yang makin sekuler dan tanpa kendali. Paparan konten kekerasan, gim bernuansa destruktif, hingga perundungan siber (cyberbullying) menjejali benak anak-anak setiap hari, membentuk mentalitas agresif dan mengikis rasa empati mereka hingga mampu bertindak nekad sebagai pelaku kriminalitas.

Dalam balutan sistem kehidupan kapitalistik saat ini, tiga lapisan utama perlindungan anak—yakni keluarga, masyarakat, dan negara—seluruhnya berada dalam kondisi jebol dan disfungsi. Di tingkat keluarga, tekanan ekonomi yang berat akibat tuntutan hidup kapitalistik sering kali mengikis fungsi pengasuhan utama. Orang tua terpaksa menghabiskan seluruh waktunya di luar rumah demi bertahan hidup, meninggalkan anak-anak tumbuh tanpa pembinaan jiwa dan akidah yang memadai.

Di tingkat masyarakat, kontrol sosial meluntur diterpa arus individualisme; kepekaan tetangga dan lingkungan sekitar terhadap potensi kekerasan di sekeliling mereka perlahan sirna. Sementara itu, di tingkat negara, kebijakan yang dikeluarkan kerap kali hanya sebatas jargon, formalitas, dan regulasi seremonial yang jauh dari esensi perlindungan hakiki.

Negara nampak gagap dan tidak serius dalam menjamin keselamatan generasinya. Hal ini terlihat telanjang dari ketidaktegasan pemerintah terhadap platform-platform digital berbahaya yang merusak moral anak. Praktik judi online, pornografi yang merebak luas, hingga keberadaan gim interaktif yang menjadi sarang tersembunyi bagi kaum pedofil masih sangat mudah diakses oleh anak-anak tanpa batasan tegas. Di sisi lain, lemahnya dan tidak menjerakannya sanksi hukum terhadap pelaku kejahatan anak—maupun ketidakjelasan penanganan pidana bagi anak pelaku kriminalitas—semakin meruntuhkan efek jera. Hukum seolah kehilangan taringnya untuk melindungi yang lemah.

Perspektif Islam: Negara sebagai Perisai Hakiki

Guna menghentikan tragedi kemanusiaan ini, dibutuhkan paradigma baru yang mendasar dan komprehensif. Dalam pandangan Islam, negara tidak boleh berlepas tangan atau sekadar menjadi fasilitator. Negara menempati posisi sentral sebagai raa'in (pengurus) dan junnah (perisai) bagi seluruh rakyatnya, khususnya anak-anak. Khilafah atau sistem pemerintahan Islam berkewajiban secara mutlak untuk memberikan perlindungan menyeluruh terhadap jiwa, fisik, mental, hingga akidah anak dari segala bentuk ancaman destruktif.

Perlindungan hakiki ini diwujudkan melalui pembentukan tata sosial yang aman dan kondusif. Negara menerapkan sistem pergaulan Islam yang memisahkan kehidupan laki-laki dan perempuan secara proporsional, menutup rapat celah liberalisme dan pornografi, serta mengikis habis potensi kejahatan dan kekerasan seksual sejak dari hulu. Lingkungan media digital dan penyiaran disaring secara ketat agar hanya konten yang membangun moral dan pemikiran positif yang dapat diakses publik.

Tak hanya itu, negara secara aktif mengokohkan peran keluarga dan masyarakat melalui edukasi berbasis syariat Islam. Negara memastikan kebutuhan pokok setiap kepala keluarga terpenuhi sehingga orang tua—khususnya ibu—dapat menjalankan fungsi edukatif dan pengasuhan utamanya tanpa terbebani krisis ekonomi. Di saat yang sama, masyarakat dibina agar memiliki kesadaran amar ma'ruf nahi munkar guna saling menjaga dan mengawasi lingkungan sekitar.

Terakhir, negara wajib memberlakukan sistem sanksi hukum ('uqubat) yang tegas, adil, dan menjerakan bagi siapa pun yang berani melakukan kekerasan terhadap anak. Ketegasan penegakan hukum ini berfungsi ganda: sebagai pemicu efek jera bagi calon pelaku lain (zawajir) dan pelebur dosa bagi pelaku (jawabir). Bagi anak yang menjadi pelaku kejahatan, penanganan hukum mendidik dan pembinaan akidah yang intensif diberlakukan agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Hanya dengan ketegasan hukum, jaminan sistem pergaulan yang bersih, serta hadirnya negara sebagai perisai sejati, keberadaan anak-anak Indonesia dapat benar-benar terlindungi. Peringatan HAN 2026 sudah sepatutnya menjadi titik balik untuk menghentikan janji-janji manis seremonial dan beralih menuju penerapan sistem perlindungan hakiki yang menjamin masa depan generasi secara nyata.

 

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,92,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,2,Depok,1,Dharmasraya,31,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,12,Jakarta Selatan,1,KAI,239,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,5,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,214,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,203,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,755,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,7,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,2,Polda Sumbar,103,Polresta Padang,1,Polri,83,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,4,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,4,Solok,5,Sulawesi Selatan,3,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,658,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,4,Telkom,1,Timezone,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: HAN 2026: Menguji Komitmen Negara Melindungi Generasi
HAN 2026: Menguji Komitmen Negara Melindungi Generasi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1HP86H0pki8Om-nMHdFsRewVFrLwhIuTnKJyl83j-lRKIUEZ6BcBL7Tr72R3jh3hZUlIPHN37vWO0KFutvnaAy6pE2fu8zc7M-V69vDz_XVt5GDtO_tSMfnC-YG6sfLvZUZr8IWgoTKDWul2pE20F2XRDVzm7-wt_CXjhc9iYf_4kXfspVrQ9vfjqO_WZ/s320/WhatsApp%20Image%202026-07-22%20at%2018.49.23.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1HP86H0pki8Om-nMHdFsRewVFrLwhIuTnKJyl83j-lRKIUEZ6BcBL7Tr72R3jh3hZUlIPHN37vWO0KFutvnaAy6pE2fu8zc7M-V69vDz_XVt5GDtO_tSMfnC-YG6sfLvZUZr8IWgoTKDWul2pE20F2XRDVzm7-wt_CXjhc9iYf_4kXfspVrQ9vfjqO_WZ/s72-c/WhatsApp%20Image%202026-07-22%20at%2018.49.23.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/07/han-2026-menguji-komitmen-negara.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/07/han-2026-menguji-komitmen-negara.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content