Oleh Kiki Ariyanti
Aktivis Muslimah
Sungguh miris rasanya menyaksikan hal tidak wajar yang dialami generasi saat ini. Banyak generasi yang mengalami depresi sampai rela mengakhiri hidupnya karena berbagai tekanan yang dialaminya. Hal ini tidaklah menjadi momok menakutkan bagi anak-anak masa kini. Padahal jelas bahwa Allah telah melarang keras untuk melakukan bunuh diri. Namun, faktanya hal haram seperti bunuh diri terus meningkat di kalangan anak muda.
Krisis kesehatan jiwa anak semakin meningkat ditengah kehidupan sekuler, yakni kehidupan yang memisahkan aturan agama dari kehidupan sehari-hari. Untuk mengatasi persoalan ini pemerintah mengambil langkah-langkah dengan menggandeng beberapa kementerian dan lembaga kemasyarakatan.
Dikutip dari antaranews.com (05/03/2026). Pemerintah mengambil langkah serius untuk menangani isu kesehatan mental anak, yang ditandai dengan penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak oleh sembilan menteri dan kepala lembaga di Jakarta, Kamis.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dalam rapat di kantor Kemenko PMK Jakarta, Kamis, menjelaskan adanya urgensi luar biasa mengatasi isu kesehatan jiwa anak-anak Indonesia, menyoroti sejumlah kasus bunuh diri yang dilakukan anak dalam beberapa waktu terakhir serta kekerasan yang dilakukan anak terhadap orang tua.
Solusi yang dilakukan oleh pemerintah ini, apakah mampu untuk menyelesaikan krisis kesehatan jiwa anak?
Dari fakta yang ada, kita bisa melihat bahwa kondisi anak-anak sekarang sedang tidak baik-baik saja. Mental anak-anak masa kini terganggu karena dirusak oleh budaya serba bebas yang selalu dijunjung tinggi oleh negara yang menerapkan sistem sekuler kapitalisme. Sebagaimana yang kita pahami bahwa hari ini sistem kapitalisme menganut paham liberalisme yang tiada batas. Alhasil sistem ini memberikan kebebasan penuh dalam berekspresi. Akibatnya bunuh diri sering menjadi solusi terakhir bagi mereka untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi.
Selain itu anak-anak yang dihasilkan dari masyarakat yang sekuler liberal, mereka sejak dini sudah dijauhkan dari nilai-nilai agama yang membuat individu lemah, mental jauh dari iman dan ketakwaan. Pendidikan di keluarga, di sekolah dan lingkungan masyarakat tidak berpijak pada akidah dan syariat Islam. Parameter sukses diukur dari kesuksesan yang bersifat materi. Ditambah masyarakat yang bersifat individualistis, hanya mementingkan kepentingan pribadinya dan dalam keluarga tidak ada rasa kekeluargaan yang kuat.
Akibatnya generasi sekarang lebih akrab dengan media sosialnya yang membantu mereka untuk mendapatkan informasi sesuai keinginan mereka, baik itu bersifat positif maupun negatif. Bagi anak sekarang dunia maya seakan-akan bisa menjadi patner dalam kehidupan untuk teman curhat dan membantu masalah yang mereka hadapi. Padahal dengan tayangan dan informasi yang negatif baik tentang pornografi, kekerasan, gaya hidup bebas, dll, kesehatan mental mereka dirusak. Akhirnya mereka cepat rapuh dan mudah merasa insecure sehingga rawan melakukan bunuh diri ketika mendapatkan sedikit tekanan dari luar.
Walaupun pemerintah sudah melakukan langkah-langkah untuk kesehatan jiwa anak dan sesering apapun negara mengganti kurikulum untuk perbaikan masa depan generasi, jika asasnya masih menggunakan sistem sekuler kapitalisme dan aturan yang digunakan masih aturan buatan manusia maka generasi akan tetap sulit untuk diperbaiki karena standar mereka bukan lagi halal haram tetapi manfaat dan materi.
Oleh karena itu, generasi muda saat ini sangat membutuhkan sebuah aturan yang jelas yang bisa memahami seluruh potensi-potensi yang ada pada diri semua manusia. Semua itu bisa di dapat dalam sistem Islam. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan perjuangan dakwah yang diarahkan untuk mengganti sistem liberal menjadi sistem Islam. Menguatkan kesadaran umat tentang pentingnya mewujudkan sistem Islam yang tegak di atas landasan keimanan dan penerapan aturan-aturan hidup yang adil dan mensejahterakan.
Dalam Islam, kesejahteraan tidak bisa diraih hanya lewat peran individu atau keluarga saja. Dalam hal ini, negaralah yang paling bertanggung jawab terhadap kesehatan jiwa masyarakat. Negara sebagai rain dan junnah mampu melindungi anak dan keluarga dari kerusakan nilai sekuler, liberal kapitalistik. Paradigma politik dalam sistem pendidikan, sistem kesehatan dan sistem ekonomi harus terintegrasi diatur berdasarkan syariat Islam.
Maka, dengan penerapan sistem Islam secara sempurna adalah solusi yang tepat agar rakyat terhindar dari problem kehidupan yang memicu pada gangguan mental. Dan Islam telah terbukti secara sistematis dapat memuliakan dan melindungi rakyatnya dari gangguan mental. Karena hanya Islamlah yang mampu menjaga akidah dan mental generasi muda masa kini. Wallahu a'lam bisshawab
