Oleh Herawati, SE
Aktivis Muslimah
Di bawah langit yang sama dan di tanah yang dijanjikan berkah. Di mana jejak para nabi pernah membekas, terhampar kini permadani duka.Palestina bukan sekadar peta geografis, melainkan kanvas biru yang dilukis oleh ribuan air mata dan darah yang mengering. Setiap fajar adalah pertarungan dan senja adalah harapan. Di sini anak-anak melukiskan nama mereka di tangan mungilnya. Seolah takut jika kematian menjemput, tak ada yang mengenali jasadnya. Mereka tidur beralaskan puing dan beratapkan gemuruh, tanpa tahu kapan mimpi buruk ini akan usai. Satu konflik terpanjang dan paling rumit dalam sejarah dunia. Kisah tentang tanah yang dicabut paksa dari akarnya. Tentang pengasingan dan pengusiran yang menjadi irama harian.
Derita Palestina Kapan Berakhir?
Penderitaan rakyat Palestina kembali mencapai titik yang menggetarkan nurani dunia. Serangan militer Israel yang berulang dan pembunuhan warga sipil . Ekspansi permukiman ilegal dan pembatasan bantuan kemanusiaan, menunjukkan bahwa krisis Palestina bukan sekadar konflik biasa. Melainkan tragedi kemanusiaan yang bersifat sistematik dan berkepanjangan.
Hingga awal 2026, jumlah warga Palestina yang tewas akibat agresi Israel di jalur Gaza di lapangan telah melampaui 71.000 orang. Puluhan ribu lainnya luka-luka, mayoritas perempuan dan anak-anak (Antara News, Januari 2026). Angka ini belum termasuk ribuan korban di Tepi Barat yang juga mengalami kekerasan dan penangkapan sewenang-wenang, serta pengusiran dari tanah mereka.
Pemerintah Israel telah mengambil keputusan kontroversial dengan melarang 37 organisasi kemanusiaan internasional untuk beroperasi di wilayah Palestina, khususnya di jalur Gaza. Sebuah tindakan yang kian menutup akses bantuan bagi rakyat yang terjepit oleh penjajah dan blokade. (Antaranews.com/31 Desember 2025)
Selama Israel tetap eksis baik diakui ataupun tidak oleh dunia, penderitaan rakyat Palestina pasti akan terus berlangsung. Israel tidak sekadar ingin bertahan sebagai negara, tetapi terus mewujudkan cita-cita pendirian Israel Raya. Sekaligus memperkuat pengaruh politik dan ekonomi globalnya dengan berbagai cara, termasuk kekerasan dan manipulasi diplomasi.
Membiarkan Israel tetap eksis sama artinya dengan membiarkan Palestina terus menderita. Berbagai tawaran penyelesaian konflik yang dipimpin Amerika Serikat dan sekutunya terbukti tidak pernah benar-benar berpihak kepada Palestina. Justru akan memosisikan Palestina ke jurang penderitaan yang makin mendalam. Wilayah yang semakin menyempit, serta kedaulatan yang semu.
Hanya dengan mengutuk atau sekadar memohon dibukanya akses bantuan meskipun penting secara moral, terbukti tidak cukup untuk menghentikan penderitaan Palestina yang berulang. Tanpa perubahan struktural, bantuan kemanusiaan hanya berfungsi sebagai penyangga sementara.
Jalan Keluar yang Fundamental
Dari sudut pandang Islam harus ada keberanian menghentikan pengkhianatan sebagian kaum muslimin yang memilih diam, berkompromi atau bahkan menormalisasikan hubungan dengan Israel. Seiring itu, kesadaran kaum muslimin untuk bangkit dan bersatu harus terus dikobarkan.
Meyakinkan umat Islam bahwa penderitaan Palestina baru akan berakhir jika negara bisa berfungsi sebagai Junnah (pelindung) yang nyata. Menjaga kehormatan umat dan melindungi wilayah-wilayah Islam dari penjajahan. Mendorong serta menguatkan perjuangan menegakkan Islam secara kafah di tengah umat dan dunia internasional.
Penting untuk terus mengingatkan kembali bahwa Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan semata. Namun, tanah milik umat Islam yang dijajah dan dirampas. Membela Palestina bukan hanya soal empati, melainkan kewajiban untuk mengakhiri penjajahan dan mengembalikan hak yang dirampas.
Wallahualam bissawab
