Palestina masih terjajah, mereka belum merdeka, dijajah dengan fisik oleh musuh kita Israel, dunia hanya bungkam tak berkutik seolah berkhianat kepada Gaza. Siapa yang bisa menolong Gaza?
Kalo bukan kita saudara seakidahnya, saudara sesama muslimnya, maka siapa lagi?. Penderitaan Gaza adalah penderitaan kita juga, bagaimana nanti di akhirat kelak beliau menuntut kita, dengan bungkamnya kita terhadap mereka.
Tanah Al-Aqsha itu kiblat pertama kita dan tanah yang diberkahi, bagaimana mungkin ada orang yang mencaplok tanah yang di berkahi itu dan kita hanya bungkam. Dimanah letak keimanan kita?.
Menurut penyelenggara, Global sumud bukan sekedar konvoi bantuan, melainkan manifesto moral masyarakat sipil Internasional. Global sumud mengevaluasi pemerintah dunia keterlaluan dalam memerdekakan rakyat Gaza, seperti kesulitan pangan, abnormal dan darurat kemanusiaan (rri.co.id, 02/09/2025).
Perjalanan Global Sumud Flotilla kini memasuki fase krusial. Jika konsolidasi di Tunisia berhasil, mereka akan melanjutkan etape terakhir menuju Gaza.
Rute tersebut merupakan rute yang paling berisiko karena di situlah Angkatan Laut Israel biasanya menghadang. Bagi peserta, hasil akhirnya belum pasti: apakah mereka berhasil mencapai Gaza, atau akan kembali menjadi catatan panjang sejarah Flotilla yang dicegat. (rri.co.id, 02/09/2025).
Gaza Masih Bersimbah Darah
Konflik di Gaza terus berlanjut, bahkan semakin ambruk, pengeboman tiada henti dan blokade yang menutup pintu bantuan berakhir pada masa krusial.
Mereka di tembaki, ketika mengambil bantuan untuk bertahan hidup, sungguh biadab perlakuan Israel terhadap saudara kita di Gaza.
Namun, anehnya banyak negara yang justru bungkam seolah berkhianat pada saudaranya atas kekejian Israel. Pengkhianatan penguasa Arab dan bungkamnya negara lainnya juga telah menambah penderitaan rakyat Gaza. Negara Arab dan negara-negara Muslim lainnya seolah menutup mata dan telinga, seakan tidak ada permasalahan di dunia ini, padahal Gaza adalah saudara kita sesama muslim yang memerlukan pertolongan kita.
Mereka malah keasyikan melakukan kerja sama dalam perdagangan internasional di tengah penderitaan saudaranya yang bersimbah darah. Belum lagi, bungkamnya negara dengan tidak ada rasa belas kasih terhadap Gaza. Karena adanya ikatan nasionalisme yang memikirkan Gaza bukan dari negaranya, dengan itu tidak boleh dibantu, mereka hanya mementingkan para korporat, membuat Gaza tidak dihiraukan.
Bantuan global sumud flotilla, belum mampu memerdekakan Gaza secara hakiki. Itu hanya bantuan bersifat sementara, karena adanya ikatan nasionalisme bukan ikatan Aqidah Islam.
Allah SWT berfirman :
"Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian (QS. Al-Baqarah : 190).
Rasulullah SAW juga bersabda :
" Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan mengasihi bagaikan satu tubuh, apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (ikut merasakan sakit"(HR. Al-Bukhari dan muslim).
Gaza adalah saudara kita sesama muslim yang membutuhkan pertolongan bukan hanya bantuan berupa sementara tetapi butuh kemerdekaan atau pembebasan hakiki dengan jalan jihad fii sabilillah.
Dibutuhkan Gaza sekarang adalah bantuan militer yang nyata dengan cara mengangkat seorang khalifah di negara Khilafah yaitu negara Islam yang di terapkan aturannya Al-Qur'an dan As-sunnah. Dimanah bisa melindungi kaum Muslim dan mengusir penjajah, namun itu hanya bisa terwujud ketika umat sadar dan meminta berdirinya Khilafah.
Dengan seorang khalifah yaitu pemimpin yang akan menyatukan miliaran umat Islam di berbagai belahan dunia berdasarkan kesatuan akidah dan syariatnya. Ia akan memobilisasi kekuatan umat Islam untuk menumbangkan proyek besar Zionis dan menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik (khairu ummah).
Dengan kaum muslim tidak bungkam, tetapi berdakwah menegakkan Khilafah dengan kemerdekaan atau kebebasan hakiki.
Wallahu a'alam bis shawwab.
