Oleh Ratna Ummu Rayyan
Aktivis Muslimah
Ketegangan di wilayah Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, terus menunjukkan eskalasi yang kian memprihatinkan. Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merinci gambaran kelam mengenai dampak konflik terhadap kelompok rentan: sejak Januari 2024 hingga pertengahan 2026, tercatat 174 anak Palestina gugur—sebuah rata-rata tragis yang melampaui angka satu anak setiap minggunya. Lebih dari 1.500 anak lainnya mengalami luka-luka, di mana hampir separuhnya disebabkan oleh peluru tajam. Di samping itu, sekitar 355 anak saat ini berada dalam cengkeraman sistem penahanan militer.
Angka-angka ini bukanlah sekadar statistik, melainkan bukti nyata atas tingginya penderitaan fisik dan psikologis yang harus ditanggung oleh generasi muda Palestina. Serangan yang masif, pengusiran dari ruang hidup, perampasan tanah, serta intimidasi yang berlangsung secara sistematis menciptakan atmosfer teror yang seolah dirancang untuk melumpuhkan masa depan warga setempat.
Namun, di tengah gelombang kekerasan yang begitu nyata, respons global maupun dari para pemimpin di dunia Muslim terkesan stagnan. Kecaman normatif dan seruan diplomasi yang berulang kali dilontarkan terbukti impototent dan gagal menghentikan tindakan agresif di lapangan. Pembiaran ini menciptakan preseden buruk bagi penegakan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan internasional.
Dalam pandangan Islam, pembiaran terhadap kezaliman—terlebih yang menimpa anak-anak dan jiwa-jiwa tak berdosa—adalah tindakan yang diharamkan secara mutlak. Syariat mengajarkan bahwa perlindungan terhadap jiwa (hifz an-nafs) dan martabat manusia merupakan prioritas utama yang wajib ditegakkan.
Konsep ukhuwah Islamiah menuntut aksi nyata yang melampaui sekat-sekat geopolitik modern.
Guna mengatasi akar masalah yang berkepanjangan ini, diperlukan perubahan tatanan dan keberanian politik yang mendasar.
Langkah-langkah diplomasi semu dan bantuan kemanusiaan parsial tidak lagi memadai. Persatuan negeri-negeri Muslim di bawah tatanan kepemimpinan yang solid dan independen (khilafah) menjadi krusial untuk menghimpun kekuatan politik serta militer yang berwibawa.
Oleh karena itu, penyampaian aspirasi dan seruan edukatif oleh elemen politik ideologis untuk memobilisasi dukungan serta tentara-tentara Muslim demi membebaskan tanah Palestina harus terus digaungkan. Hanya dengan ketegasan sikap, penegakan hukum syariat yang adil, dan mobilisasi kekuatan yang nyata, penderitaan anak-anak di Tepi Barat dan seluruh wilayah Palestina dapat diakhiri secara permanen.
Wallahu'alam bi showwab...